PENDEKAR MABUK ALA JACKIE CHAN

11 05 2012

Oleh Moh. Mahfud M.D.

Pada 12 Juli lalu, saya sedang di Zhenzhen dan bersiap-siap pulang ke Indonesia setelah berkunjung ke Beijing (ibu kota RRC) sebagai delegasi DPR RI. Salah seorang pegawai KBRI di Beijing yang melayani rombongan kami bercerita bahwa dalam sepanjang pengalaman melayani tamu-tamu dari Indonesia, melayani kami termasuk yang enak.

“Mengapa?” tanya saya. “Karena kami bisa agak rileks, kita bisa saling bergurau, menikmati hiburan bersama, dan pemerintah RRC tak ikut campur,” jawabnya.

“Apa punya pengalaman buruk saat melayani tamu lain dari Indonesia?” tanya saya lagi. “Bukan pengalaman buruk, tapi tegang dan stres. Yakni, ketika kami melayani Gus Dur,” jawab pegawai itu lagi.

“Lo, Gus Dur kan justru lebih suka santai dan banyak guyon?” kejar saya lagi. “Gus Dur sih memang santai-santai saja, tapi pemerintah RRC yang sangat aktif mendampingi kami untuk melayani Gus Dur sehingga kami harus selalu siaga,” jawab pegawai KBRI asal Tapanuli yang dipanggil Komeng itu.

Berceritalah Komeng bahwa nama Gus Dur sangat tersohor dan dihormati di RRC sehingga saat dia berkunjung -meskipun dalam kunjungan pribadi karena bukan lagi presiden- pemerintah RRC ikut sibuk memberikan pelayanan. Pelayanan bukan hanya dipercayakan kepada Kedubes Indonesia, tapi langsung juga ditangani oleh pemerintah RRC. Setiap saat pemerintah RRC selalu memantau, apa kebutuhan Gus Dur, apa sudah ada yang ngantar, apa pelayanan di hotel sudah bagus, apa ada yang kurang, dan sebagainya.

Pemerintah RRC selalu melayani Gus Dur secara istimewa karena dia dianggap sebagai pemimpin Indonesia yang tegas melindungi warga keturunan China di Indonesia yang dulunya -sejak prahara G 30 S/PKI tahun 1965- selalu didiskriminasi.

Pemerintah dan rakyat RRC berterima kasih karena saat menjadi presiden, Gus Dur bukan hanya melanjutkan pencairan hubungan diplomatik, tetapi juga merajut hubungan ekonomi, perdagangan, kebudayaan, dan sebagainya. Di Indonesia sendiri, Gus Dur membuat kebijakan agar tidak ada lagi KTP orang-orang China yang diberi tanda khusus “warga keturunan.” Gus Dur juga menghapus keharusan “tak resmi” bahwa nama China harus diganti dengan nama Indonesia seperti Liem harus menjadi Salim, Lie menjadi Ali, Kwan menjadi Ikhwan.

Bahkan, Gus Dur bukan hanya membolehkan, tapi mendorong warga China merayakan Imlek dan membolehkan tari Liang Liong atau Barongsai dipentaskan secara terbuka. Pada masa kepresidenan Gus Dur pula, mulai diperintahkan penghapusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) yang harus dimiliki oleh warga negara keturunan China sebab mereka lahir, dibesarkan, dan hidup di Indonesia yang harus diperlakukan sama. Karena itulah, kalau berkunjung ke RRC, Gus Dur selalu diperlakukan sebagai tamu agung.

Zigzag Politik
Saat sedang asyik bertukar cerita dengan Komeng, HP saya berdering. Alim, seorang aktivis PKB dari Sragen, menelepon saya untuk menanyakan perihal gonjang-ganjing di PKB berkenaan dengan pembekuan DPW PKB Jawa Timur. Pada saat yang bersamaan, banyak SMS masuk dari Indonesia menanyakan hal yang sama disertai isu-isu lain seperti pemecatan-pemecatan pengurus atau MLB.

Saya jawab kepada mereka bahwa saya ada di Beijing sehingga tak banyak tahu apa yang terjadi. Tetapi untuk mengurangi kegelisahan, saya sarankan kepada mereka untuk mengikuti saja pendapat umum di kalangan warga PKB dan NU bahwa Gus Dur itu sering membuat gebrakan-gebrakan yang sulit diduga, apalagi dipahami maksudnya, tetapi tujuannya baik; semula melangkah kontroversial, tetapi akhirnya dipuji.

Seperti beberapa orang lain, saya sering mengibaratkan Gus Dur itu seperti tokoh “pendekar mabuk” yang diperankan oleh Chen Lung alias Jackie Chan dalam film Drunken Master. Jurus-jurus Jackie Chan sebagai pendekar mabuk pada film Drunken Master itu tampak serampangan dan lucu, tetapi semuanya sudah diperhitungkan dengan baik. Ada kalanya dia bergerak sempoyongan seperti orang mabuk, tetapi ternyata menghindar dari serangan lawan. Pada saat lain, dia seperti mengangkat botol untuk minum arak sambil gemetaran karena mabuk, tapi ternyata mengirimkan serangan dahsyat. Di saat lain lagi, tiba-tiba dia terjatuh dengan gerak kaki yang tak teratur, tetapi ternyata mengait kaki lawan sehingga sang lawan terjerembab.

Kita perlu memahami langkah-langkah Gus Dur seperti jurus-jurus mabuk dalam film Drunken Master itu, yakni sebagai langkah yang sama sekali tidak bisa diduga, tapi mempunyai sasaran tertentu. Yang tahu rencana dan langkah Gus Dur itu hanya Gus Dur dan Gusti Allah.

Dalam kasus pencalonan pilkada, misalnya, semula Gus Dur mengiyakan dan tak menolak semua calon kepala daerah yang disodorkan oleh banyak orang kepadanya. Semuanya dibiarkan mendukung dan mengajukan calon dengan berbagai manuvernya. Tetapi pada saat terakhir, tiba-tiba Gus Dur mengumumkan calon lain yang sebelumnya tak diduga. Nah, pada saat itulah calon-calon yang sudah telanjur membayar uang (suap) melalui oknum-oknum tertentu mulai bernyanyi dan menyebut bahwa dirinya sudah diporoti sekian ratus juta atau sekian miliar melalui si Fulan.

Dari jurus mabuk yang dadakan seperti itu, Gus Dur kemudian menampung laporan dan menjadi tahu orang-orang yang suka menjual partai atau melakukan “politik transaksi” dalam berbagai jabatan yang diperebutkan. Dan dari sanalah biasanya tindakan-tindakan tegas dilancarkan dalam apa yang sering disebut sebagai “pembersihan tanpa kompromi.”

Oleh sebab itu, warga atau konstituen PKB tak perlu risau atas apa yang sekarang terjadi di tingkat pengurus PKB. Tetaplah istikamah agar PKB terus berkhidmat bagi rakyat. Apalagi jika diingat saat ini PKB sedang berulang tahun yang ke-9.

*Moh Mahfud M.D., anggota DPR dari PKB Daerah Pemilihan X (Madura) Jatim  (Indo Pos, Sabtu, 28 Juli 2007)


Actions

Information




%d bloggers like this: