MEREKAYASA KESAN

4 05 2012

Seorang mahasiswa memberikan ceramah di depan ratusan jamaah masjid di sebuah dusun kecil. Kebanyakan pendengarnya tidak memperoleh pendidikan lebih dari tingkat SD. Dengan bersemangat ia berkata, “….. Dalam menghadapi era globalisasi, ketika perilaku umat manusia distandardisasi, ketika interdependensi di antara berbagai bangsa terjadi, umat Islam harus mampu melakukan antisipasi… dan.. bla.. bla.. blaa.. “

Mahasiswa itu tahu betul bahwa tingkat pendidikan kebanyakan pendengarnya tidak lebih dari SD. Ia sadar betul kebanyakan dari mereka tidak memahami pembicaraannya. Ia memang berpidato bukan  menyampaikan gagasan, bukan memberikan informasi. Ia sedang  berupaya agar pendengarnya memperoleh kesan bahwa Pak Mahasiswa itu orang pandai.

Buktinya? Pembicaraannya tidak dapat dipahami.

Pada waktu yang sama di depan para ulama, seorang birokrat dalam pidatonya dengan fasih membacakan ayat-ayat Al-Quran dan hadits. Kebanyakan tidak relevan. Jangankan kok begitu ……, Pak Birokrat sendiri juga tidak begitu paham, walaupun telah berhari-hari ia menghafalkan ayat-ayat dan hadits-hadits itu. Ia memang tidak bermaksud untuk mengajari para ulama. Jelas, mereka lebih tahu tentang tafsir dan syarah hadits, daripada dirinya. Lalu untuk apa?

Ia ingin meyakinkan para ulama itu bahwa ia tahu banyak tentang agama; bahwa ia bukan sekedar pejabat. Ia sedang mengelola kesan orang lain terhadap dirinya.

Erving Goffman, dalam bukunya yang klasik The Presentation of Self in Everyday Life, menyebut perilaku mahasiswa dan birokrat tadi sebagai penyajian diri (presentation of self).

Kita masih ingat  lagunya GodBless “Dunia ini Panggung Sandiwara” yang dinyanyikan Achmad Albar, dan memang tidak salah, bahwa kita semua adalah pemain Sandiwara.  Umumnya dan sudah menjadi umum; di tengah-tengah masyarakat kita ingin menyajikan diri kita seperti “naskah” yang memang kita persiapkan. Mahasiswa itu ingin menyajikan dirinya sebagai “orang pinter” dan birokrat itu ingin mengemukakan dirinya sebagai “orang alim”.

Public Self, citra diri atau image untuk mengangkat harkat diri itulah yang ingin kita tampilkan di depan umum, supaya terbentuk kesan bahwa kita ini orang pinter, maka itu pak mahasiswa menyampaikan kata-kata asing yang kadang-kadang dia sendiri tidak mengerti. Supaya para ulama tahu bahwa pak birokrat adalah orang alim, maka di bacakanlah ayat-ayat dan hadits-hadist.
Karena pada umumnya kita tahu, bahwa orang membentuk kesan tentang diri kita dari perilaku yang kita tampilkan (pak Goffman menyebutnya “face”), maka kita rekayasa-lah perilaku kita. Orang memperoleh kesan tentang diri kita dari pembicaraan kita; maka kita atur pembicaraan kita sesuai dengan kesan yang ingin kita peroleh. Rekayasa kesan inilah kemudian disebut impression management (pengelolaan kesan).
Untuk mengelola kesan, selain pembicaraan (yang dapat didengar atau dibaca), kita menggunakan lambang-lambang visual (yang dapat dilihat). Termasuk lambang-lambang visual adalah tindakan, penampilan, kendaraan, rumah, atau benda-benda lainnya.

Boleh jadi anda membusungkan dada dengan mata yang menatap lurus ke depan, seolah-olah anda sedang menggunakan tindakan untuk menimbulkan kesan “bos”. Sambil mengenakan pakaian yang “trendy” dan parfum yang mahal, atau anda menyerahkan credit card kepada pelayan restoran.  Anda sedang menggunakan penampilan agar orang tahu bahwa Anda pengusaha muda yang sukses.

Apakah itu perlu ??, bukankah lebih nyaman menjadi jujur dan apa adanya…?


Actions

Information




%d bloggers like this: