WAYANG ‘MBELING’

27 01 2008

Gorawangsa Operasi Plastik

+Dalang: Ki Harsono Purbawaseso+

Love is never die, Cinta tak akan pernah mati. Itu yang dialami seorang pemuda bernama Gorawangsa. Meski Dewi Maerah telah menjadi istri orang, namun namanya terpatri indah di lubuk hati terdalam Gorawangsa. Dewi Maerah telah menjadi spirit of life, roh serta nafas hidup Gorawangsa, meski kini telah dimiliki laki-laki lain, namun cintanya tidak pernah berhenti.
Kasih tak sampai Gorawangsa, hampir-hampir menyesatkan jalan hidupnya. Kuliahnya nyaris DO, tiap malam pekerjaannya nongkrong diskotek, minum- minuman keras sampai lari ke barang haram narkoba.Orang tuanya yang bingung mengirim Gorawangsa ke Antaboga. Center, lernbaga nondepartemen pusat rehabilitasi remaja bermasalah di Mathura yang didirikan oleh ISM, sukarelawan dan aktivis kemanusian yang tidak tertampung di kabinet Basudewa.

Berkat bimbingan yang telaten, keyakinan dan kesadaran Gorawangsa perlahan mulai tumbuh. Ia berhasil merampungkan skripsinya. Berbekal gelar sarjananya dia diterima menjadi CPNS. Meski sudah hidup normal dan menjadi pegawai negeri, cintanya pada Dewi Maerah tidak pernah hilang dari ingatan.

Tapi untuk mengembalikan wanita itu ke pangkuannya, rasanya mustahil. Dewi Maerah telah menjadi milik orang lain. Terlebih yang memiliki adalah bos dari segala bosnya negeri Mathura, Prabu Basudewa yang dilindungi para preman yang terkenal bengis dan supergalak di muka bumi.
Gorawangsa tak ingin grusa-grusu, dirinya tak mungkin melawan barikade tembok kekuasaan yang otoriter. Bisa-bisa dirinya dicincang atau dikurung seumur hidup dengan pasal pidana subversif, makar atau teroris.

Prinsip Gorawangsa, kekuatan tidak harus dilawan keras, kekuatan harus dilawan otak dan akal sehat. Dirinya, tak mungkin senekat Ken Arok atau setragis Pranacitra di negeri ketoprak, Gorawangsa sekarang lebih banyak diam, tirakat, puasa Senin-Kamis, mutih dan ngrowot. Fasilitas dari Mbah Dukun, tidak juga dimanfaatkannya. Gorawangsa ingin Dewi Maerah mencintai dirinya natural, alamiah dan sepenuh hati, bukan hanya 40 hari dengan fasilitas pengasihan, kecubung wulung atau semar mesem, yang bisa terbahaya bagi anak keturunannya kelak.Yang membuat Gorawangsa sedikit terhibur ketika datang surat Dewi Maerah saat valentine day yang lalu, yang benar-benar menyentuh hatinya. Padahal biasanya Dewi Maerah hanya titip salam atau SMS-an saja. Wanita itu merasa tidak bahagia menjadi istri ke tiga Prabu Basudewa.

Dalam suratnya Maerah berkeluh kesah. Secara material memang bergelimang, harta, punya istana, mobil sedan keluaran terbaru serta fasilitas duniawi yang lain. Tetapi kebahagiaan yang diimpikannya hanyalah dalam khayalan belaka, kasih sayang yang diinginkannya tak didapatkan. Kebutuhan ranjang seperti tak pernah tersentuh.

Singkatnya Dewi Maerah butuh PIL yang bisa membunuh kesepiamnya,”Bayangkan aja Mae Asa (panggilan akrab Gorawangsa) kalau aku minta dikeloni, harus sabar menanti giliran, kayak antre beras. Sudah gitu yang didahulukan istri pertamanya, Dewi Rohini. Terus istri keduanya Dewi Badraini. Aku hanya kebagian intipnya. Satu ronde sudah loyo. Siapa yang nggak gemes sih mas?” kata Dewi Maerah dalam suratnya dengan nada kesal. Kemudian surat itu masih dilanjutkan yang intinya memuji keperkasaan Gorawangsa.

Kerinduan Gorawangsa pun semakin menjadi. Dirinya benar-benar kasmaran dimabuk cinta berat. Dia seperti orang gila. Foto Dewi Maerah dipasang besar-besar, di baliho, spanduk, stiker, kaos, bendera dan pamflet. Mirip kampanye pemilu. Tentu saja ulah Gorawangsa membuat pihak keamanan gerah, mengganggu ketentraman umum dan yang memberatkan lagi adalah pidana subversif, menghina, kepala negara Mathura karena Dewi Maerah istri sah Prabu Basudewa dilecehkan di muka umum. Satu pasukan khusus Mathura dan para sniper jitu diterjunkan, khusus memburu Gorawangsa hidup atau mati. Tapi mereka tak bisa menemukan wajah Gorawangsa, sekalipun fotonya telah disebar ke seluruh Polsek dan Koramil di seentaro Mathura.

Kini justru Gorawangsa bisa menikmati angin segar kebebasan. Teknologi negeri Mathura yang masih cupet tak akan mungkin rnelacak Gorawangsa. Apa pasal? Gorawangsa ternyata telah operasi plastik, melalui seorang ahli bedah terkenal di negara tetangganya. Lalu beayanya? selain uang sendiri , kekurangannya dibeayai Dewi Maerah.
Siapapun pasti akan pangling, karena telah berubah seratus delapan puluh derajad. Yang mengherankan, Gorawangsa yang hitam kelam kayak arang dan brangasan, kini tampak kalem seperti priyayi. Lebih heran lagi raut mukanya disulap persis dengan wajah Prabu Basudewa.
Skandal cinta Dewi Maerah-Gorawangsa pun mulus. Mereka bisa pacaran sepuasnya, sampai ngapal sekalipun karena tak akan ada yang menyangka jika ada Gorawangsa, wayang tiruan alias wayang imitasinya Basudewa.

Baru setelah Dewi Maerah telat menstruasi dan hasil medicalnya di Poliklinik Mathura dinyatakan positif hamil, Prabu Basudewa tampak tak percaya. Karena dirinya memang jarang meniduri Maerah.

“Apa mungkin kondom yang saya pakai bocor ya?” tanya Basudewa kepada dokter pribadinya.

Gorawangsa yang mendengar Basudewa tampak bloon hanya terkekeh. Dan berharap Basudewa tidak mengakui bayi yang dikandung Dewi Maerah, serta mengusirnya, kemudian Gorawangsa bebas menikahi wanita pujaannya itu. (25)
(Sumber:http://www.suaramerdeka.com/cybernews/kejawen/wayangmbeling/wayangmbeling-kejawen03.html)


Actions

Information




%d bloggers like this: