GENGSI

25 01 2008

Tulisan berikut dibawah ini ditulis 16 tahun lalu oleh Pak M Sobary (Budayawan yang konon dianggap setengah Sufi), tapi masih enak untuk dibaca ulang sebagai renungan karena masih cukup mewakili kondisi masyarakat kita yang memang pantas kita renungkan dan kita sikapi. + dhitos+. 

Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, seringkali  dalam  hidup ini  kita mati-matian memburunya. Demi gengsi orang bersedia melakukan apa saja, berapa pun besar ongkos  dan  risikonya. Banyak  tindakan  melawan  hukum,  tata  susila  dan  moral, dilakukan demi mengejar gengsi.

Lain orang lain pula simbol-simbol yang dipandang bergengsi. Unsur  etnis,  kesukuan,  agama,  tingkat  pendidikan, jenis pekerjaan, jenis kelamin dan tingkat usia seseorang,  sering mewarnai perbedaan-perbedaan tadi.Unsur  lokal  (di  daerah  mana atau kompleks apa) seseorang tinggal, juga mempengaruhi corak perbedaan gengsi  tadi. 

Di kompleks perumahan sederhana, orang masih bisa bangga betapa ia baru pulang dari Blok M membeli mesin  cuci  atau  video.

Pekerjaan “mulia” itu biasanya diemban oleh, maaf agak terus terang, kaum ibu.

Di kalangan sarjana, lain lagi ulah orang untuk  menunjukkan gengsi  ini.  Pernah  seorang  doktor dari Indonesia memberi ceramah di Universitas Monash, Australia, di depan mahasiswa Indonesia. Dalam sepuluh dari tiga puluh menit ceramahnya ia sibuk bicara tentang dirinya, termasuk bahwa ia  murid  Ivan Illich dan Rostow yang beken itu.

Arti  simbolik  dari  “pidato”-nya  itu  pun merupakan usaha menunjukkan gengsi  untuk  menimbulkan  efek  “wah”.  Memang banyak  orang  terkesima  mendengar murid Rostow itu bicara. Namun ada juga yang tampak gelisah.  Saya  malah  mengantuk.

Ketika  ceramah  selesai,  orang  pun  menggerutu.  Katanya, ceramahnya tidak  bermutu. 

Saya  tidak  setuju.  Mana  bisa doktor tidak bermutu?“Kamu tidur kok bisa tidak setuju,” gerutu salah seorang.

Maksud saya, mutu sudah terang ada, cuma tak setinggi langit harapan kita. Memang salah para  pendengar.  Mereka  terlalu banyak  berharap.  Orang  sering  keliru, dikiranya kualitas luar negeri (dan murid sarjana kenamaan) mesti hebat.

Sebenarnya, kita musti sepaham dulu  dalam  dua  hal:  bahwa kebesaran  guru  belum  tentu  merembes  ke murid, dan bahwa doktor haruslah pertama-tama dilihat, apa boleh  buat,  Cuma sebagai  lambang  selesainya  sebuah  proses  administratif. Artinya, tak usah dulu bicara tentang kemampuan akademisnya.

Namun, apa yang terjadi di sekitar kita  memang  lain.  Kita terlanjur  menilai,  doktor  itu sebuah gengsi akademis yang tinggi. Sikap seorang doktor dengan orang awam  pun  jadinya ada   keserupaan.  Mereka,  pada  dasarnya,  kelewat  bangga terhadap gengsi. Kenyataan tidak  seimbangnya  gelar  dengan kemampuan  akademis,  atau,  tak  seimbangnya  gengsi dengan esensinya sebagai seorang doktor, merupakan soal lain.

Kita lihat saja, misalnya, betapa  gigih  mahasiswa  sekadar mengejar  lulus  demi  gelar.  Jadi  demi  gengsi. Dan bukan memburu esensi. Sudah barang tentu sikap mereka salah.  Tapi kurang  adil  kita  menimpakan  kesalahan  hanya  pada  para pemburu  gengsi  itu.  Soalnya,  mungkin  kita  semua  punya kontribusi  terhadap  terbentuknya sikap dan orientasi hidup seperti itu. Mungkin kita semua sudah gila gengsi.

Membanggakan mantan guru,  almamater,  jabatan,  orang  tua, atau  gelar  akademis,  diam-diam lalu menjadi lumrah. Tidak punya kemandirian dianggap biasa. Jarang jadinya orang  yang berani  bersikap  lugas, apa adanya. Kalau toh ada juga, itu sebuah kekecualian.

Beberapa bulan lalu, saya  berkenalan  dengan  seorang  yang rambutnya mulai memutih. Saya sulit menduga sebagai apa dia. Dia hanya mengaku bekerja di sebuah  departemen,  yang  saya tahu pusat penelitiannya baik. Tapi ketika saya tanya apakah dia  peneliti,  dengan  datar  dia  menjawab:   “Saya cuma birokrat.

Tak  ada  kesan  apa-apa  di  wajahnya.  Di masyarakat kita, birokrat  sering  dipandang  remeh.  Setidak-tidaknya  gelar birokrat  tampak  tak seluhur cendekiawan, dramawan, penyair atau ahli ini ahli itu. Citra birokrat terlanjur negatif.

Pengakuan “saya cuma birokrat” itu lalu  terasa  mengesankan kegetiran.  Tapi  mungkin  juga  keberanian.  Penasaran saya jadinya. Dari orang  lain  akhirnya  saya  tahu,  dia  bukan sembarang  orang.  Dia  seorang  Dirjen.  Kabarnya,  Menteri pernah menawarinya rumah di Menteng. Tapi dia menolak. Lebih suka dia tinggal di rumah sederhana yang dibelinya sendiri.

Sebagai birokrat, rumus kerjanya cuma dua: “Bikin tiap orang yang  keluar  dari  kamarmu   tersenyum   bahagia.   Jadikan jabatanmu sarana ngibadah (beribadah)”.Saya kagum. Saleh orang ini. Tak banyak di negeri kita orang yang  bicara  tentang  jabatan  sebagai   sarana   ngibadah.

Umumnya,  jabatan  dijadikan wahana mewujudkan impian-impian dan sarana menjunjung tinggi (secara  sosial,  ekonomi,  dan politis) gengsi keluarga, anak cucu dan para cicit.(Mohammad Sobary, Suara Pembaruan, 18 Januari 1992)


Actions

Information




%d bloggers like this: