Berani Malu, seperti DIA…?

25 01 2008

Kemarin saya membuka-buka dan membaca kembali klippingan lama artikel Parodi yang di tulis oleh Samuel Mulia seorang penulis mode dan gaya hidup di harian Kompas Minggu, 23 Juli 2006 di-halaman 19, yang ketika itu sedang rame-ramenya semua surat kabar memberikan kritikan tajam kepada Nadine yang putri Indonesia karena “amburradulnya” bahasa inggrisnya. Dari sana saya jadi kembali teringat postingan saya sebelumnya tentang kenekatan dan keberanian si Mardjono membawa “setandan Pisang demi untuk calon sang pacar.(bisa dibaca kembali). Dan rasanya saya jadi menyesal, malu sendiri dan  juga berterima kasih bahwa saya jadi memahami betapa sebenarnya saya tidak seberani itu kalau dibandingkan dengan kenekadan si Mardjono, walaupun umpamanya saya sudah membawa bunga ataupun sekotak coklat “Silver Queen” belum tentu saya seberani Mardjono datang ke calon pacar yang sudah terang-terangan tidak “respect” dengan kita. Bagi yang tidak berlangganan Kompas ataupun yang belum sempat membacanya saya kutipkan “Kilas Parodi dari pak Samuel Mulia” yang bagus sekali yang tentu saja sudah saya edit supaya lebih enak dibaca tanpa mengurangi maknanya untuk kita renungi:

Sebelum Menghina dan Mengkritik Coba kita Renungi ini:

1.        Kadang-kadang kita perlu sekali bertanya pada diri Kita, apakah kita ini cantik, ganteng, pintar, kaya, bisa ini, bisa itu. Kalau kita tahu bahwa satu saja tak terpenuhi, ‘mbok’ sebaiknya mulut kita  dibungkam saja.

2.        Kadang-kadang juga kita perlu melihat ‘halaman rumah’ kita sendiri. Apakah halamannya kotor atau bersih, terpelihara atau tidak, sebelum kemudian kita tidak tahan ingin memberi komentar atas ‘halaman rumah’ orang lain. 3

.        Menghapuskan perasaan iri yang menguasahi hati kita adalah sangat diperlukan. Untuk menyampaikan Kritik atau komentar adalah seyogyanya bisa disampaikan, tetapi dengan hati yang bersih tanpa ada udang dibalik batu. Dan kalau menyampaikan kritik adalah lebih baik kalau tidak disertai ‘emosi’, biasa saja seperti kalau kita sedang mengobrol. Kalau tak bisa, coba kita membayangkan kalau kita sedang dikritik dengan suara tinggi.  Mau tidak? Tidak, bukan?

4.        Mungkin kita perlu memilih cara mengungkapkan kritik atau hinaan dengan cara lebih halus dan tidak menyinggung perasaan. Misalnya: “Wah.. pas banget pakai kemeja merah muda. Kulit anda kelihatan cemerlang dan Anda kelihatan guanteng dibandingkan kemeja putih” daripada mengatakan “ elo, jelek banget mas pakai kemeja putih. Ganti deh sama yang ping jadi kulit mas yang bluek itu jadi lebih cemerlang” Kata teman saya “enggak enak kalau enggak ada suara tingginya. Jadi enggak kerasa gereget kritiknya . Ntar malah curhat lagi…”

5.        Kalau dipikir apa sih untungnya buat kita setelah umpamanya kita melakukan penghinaan? Tapi ada saja seorang teman yang berkomentar seperti ini, “Enggak ada untungnya sih buat gue, Cuma rasanya puaaaasss gitu loh!” Ia kemudian  melanjutkan lagi, “Berarti ada untungnya buat gue ya bo. Akika puas tuh”. Akika itu artinya saya.

6.        Coba kita pikir betapa untungnya ada orang ‘gebleg’ disekitar hidup kita, jadi yang pintar bisa tak punya saingan. Tapi ada lagi kata seorang teman yang tadi. “paling enggak, ada yang bisa buat dihina ya, bo.” Bayangkan saja kalau semua orang pintar, apa jadinya dunia ini.? Maka seperti cerita Pandawa dan Kurawa saya selalu berpikir kalau jadi salah satu anggota pandawa, saya akan berterima kasih kepada kurawa. Karena kejahatan  mereka begitu dahsyatnya. Bayangkan, kalau Kurawa baik banget seperti pandawa, apalah hebatnya kebaikan Pandawa?

Ditulisannya yang lain “Mbak Nadine ‘I Lap You’”, yang menjadikan saya juga ikut malu sendiri, karena saya termasuk orang yang sempat berfikir tentang keamburadulnya bahasa inggrisnya Nadine. Berikut sebagian kutipan tulisannya. 

“…. Setahun lalu, sebuah setasiun televisi nasional ingin mewancarai saya seputar dunia mode dalam bahasa inggris. Waduh, saya gelagapan, malu mengaku tak bisa bahasa dewa itu. Karena malu, dan saya belajar dari pepatah yang mengatakan banyak jalan menuju Roma, saya dengan pikiran secepat titipan kilat mengatakan waktunya kurang tepat karena saya mau keluar kota. Itulah hebatnya saya. Tidak berani mengaku kekurangan, tapi berani menutup kekurangan. Jadi saya tetap kelihatan bagus tanpa harus ketahuan bagian tak bagusnya. Maka ketika semua orang menertawai Mbak Nadine, saya malah berterima kasih kepadanya dan jadi malu sendiri. Perbedaan saya dengannya adalah saya seorang pengecut. Tak berani seperti dirinya yang dengan bahasa inggris amburadulnya bisa mewakili Indonesia di ajang internasional. Ia mampu menjadi dirinya sendiri meski banyak yang menertawainya.Saya ?  Saya Cuma berani dibawah selimut “enakan di bawah selimut lagi” celetuk teman saya. Karena saya diselimuti, saya tak berani mempertontonkan isi kepala saya yang sesungguhnya. Saya malu ditertawai. Mbak Nadine berani. Berani ditertawai maksudnya….”

Nah, sampai disini setidak-tidaknya saya  berani, mem-posting tulisan orang (pak Samuel Mulia) tanpa bilang-bilang yang punya, tapi ya hanya ini.  Hmmm…! (posted by dhitos @2008)


Actions

Information




%d bloggers like this: