PAMER UNTUK CITRA DIRI..?!

18 02 2007

Ketika itu saya menghadiri pertemuan Reuni (temu kangen), baru-baru ini dan merupakan yang pertama kalinya diadakan setelah berpisah sekian tahun sejak lulus dari SLTA. Maka bisa dibayangkan betapa rame dan hiruk pikuknya.

Kalau menurut hasil pengamatan, hanya setengah jam pertamalah adalah saat-saat paling jujur dimana ada luapan kerinduan ketemu kawan lama. Ada yang saling berpeluk kangen mesra, ada yang terus bercanda saling meledek “kok kamu sekarang sudah jadi jelek, sudah botak, ubanan, gigi ompong lagi”, ada yang kemudian saling mengingatkan dan bercerita masa lalu, bercerita tentang pacar lama atau mengingat ketika dihukum pak guru yang galak, adalagi yang mengingat ketika nyontek ketahuan terus dihukum dan lain-lain pokoknya meriah dan menyenangkan sekali yang kemudian dilanjutkan dengan saling bertukar nomor HP dan alamat dan lain-lain, dan lain-lain.

Setengah jam kemudian dan diikuti jam-jam berikutnya mulailah diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi dengan bercerita temannya pejabat anu dan sebagainya yang pendek kata akhirnya tanpa disebutkan bermuara pada penunjukkan citra diri dalam hal kekayaan materi yang mereka punya dan kelola saat ini dan itulah yang kemudian mewarnai acara kangen-kangenan ini yaitu unjuk gigi pamer. 

Memang sepotong kata “pamer” sudah tidak asing dan mengherankan, itu seperti menjadi bagian dari tradisi salah kaprah yang mewarnai pergaulan bermasyarakat yang ada disekitar kita. Pada umumnya didalam pergaulan masyarakat disekitar kita lazimnya sebagai manusia ingin diakui keberadaannya ditengah masyarakat sebagai orang yang memiliki kelebihan-kelebihan. Kelebihan-kelebihan ini bisa saja berbentuk seperti kekayaannya, kepandaiannya, kekuasaannya atau jabatannya sehingga diharapkan dengan menunjukkan kelebihan tersebut dapat meningkatkan derajat statusnya dimata orang lain sebagai pengakuan.Memang tidak mengherankan bahwa umumnya manusia ingin sekali dihargai, diakui atau di “wah”, dan tidak ingin bahkan tidak mau diremehkan atau direndahkan derajatnya dimata orang lain. Maka itu hampir setiap orang kemudian mulai berlomba mencari bentuk citra dirinya yang dianggap baik yang digunakan untuk pengakuan. Dan “Pamer” itu mewujudkan salah satunya upaya untuk membentuk citra diri yang dimaksud. Dan cara orang pamer ini juga macam-macam: 

Pamer yang menggunakan sarana untuk memperlihatkan citra diri umpamanya memamerkan kekayaannya dengan menunjukkan apa-apa yang dipakai serba wah, yang pamer kalungnya yang serba berlian dan emas disekujur tubuhnya, ada yang pamer mobilnya yang mewah atau ada juga rumahnya yang gede-gede mewah dan banyak. 

Pamer yang menggunakan cerita atau kata-kata saja dan ini boleh dikatakan membual (buwalan) yaitu cerita yang dibesar2kan tidak sesuai dengan kenyataan bisa juga dikatakan cerita bohong. Untuk contohnya bisa dibayangkan sendiri.Pamer yang untuk pergaulan bermasyarakat umpamanya dengan cerita saudaranya yang jadi pengusaha kelas dunia, atau cerita menantunya yang sudah S3 dari Amerika, Jerman, atau cerita temannya yang jadi direktur bank, atau juga cerita seringkali “shopping” di Luar negeri.Jadi kalau semua orang pada pamer dan cerita sendiri-sendiri sebenarnya yang jadi pendengar tidak ada alias sama saja seperti orang ngomong sendiri “dus” artinya sama saja dengan orang gila.Sifat senang pamer itu banyak sedikitnya masih ada hubungan saudara dengan sifat sombong. Orang yang sombong itu biasanya suka meremehkan orang lain dan menganggap dirinya paling kaya, paling baik, paling pandai sedang orang lain itu miskin, jahat dan bodo dibandingkan dirinya. Sifat yang demikian dapat dikatakan sebagai sifat yang arogan, yang suka menepuk dada sendiri dan biasanya orang demikian banyak sekali mengalami masalah didalam bermasyarakat. [Versi lain tentang sombong bisa dibaca disini.]

Kalau kita mau menyadari, yang namanya kekayaan, kepandaian, jabatan atau derajat itu sebenarnya adalah anugerah pemberian Allah SWT Sang Hyang Maha Agung yang lebih pantas untuk di syukuri dan tidak perlu dipamer-pamerkan atau dibesar-besarkan dalam kebohongan untuk dirinya. Yang akhirnya menjadikan dia lupa bahwa sebenarnya semua itu adalah hanya pemberianNYA.Maka masih perlukah kita pamer ??[@dhitos] 

(dikutip & dirangkum dari sini)


Actions

Information




%d bloggers like this: