NONTON WAYANG

12 02 2007

wayang01

Hobby saya nonton wayang terutama wayang kulit sekarang ini sudah tidak se ’getol’ dulu, sekarang saya lebih menyukai filosofi ceritanya dibanding nontonnya. Disamping memang saat ini susah sekali cari tontonan wayang apalagi kalau itu di Jakarta.

Ketika masih kanak-kanak dulu, kalau nonton wayang selalu rame-rame ber-empat atau lima orang teman. Selalu tidak ketinggalan bawa sarung dan ’dibelain’ berjalan berkilo-kilometer ’nglurug’ ke lain desa hanya untuk melihat wayang (lha wong namanya juga di kampung). Sebenarnya sih.. bukan pertunjukan wayangnya yang mau dilihat tapi keramaiannya (kira-kira samalah dengan ’layar tancep’ kalau di Betawi).

Biasanya pertunjukkan wayang diadakan oleh orang yang punya hajat perkawinan atau sunatan atau punya hajat ’ruwatan’ dan biasanya juga yang mengadakan adalah orang yang cukup berada. Itu sebabnya disana banyak makanan enak dan gratis. Karena itu jugalah sebenarnya yang menjadi daya tarik utama yang membuat saya dan teman-teman rela mendatanginya kendatipun tempatnya bisa dikatakan jauh sekali.

Nah, … kalau sedang nonton wayang saya paling suka cari tempat persis didepan dan dekat sekali dengan dalangnya, tapi posisinya berseberangan dibalik layar tempat wayang dipertunjukkan. Tahu ..enggak, kenapa hayo?!

Karena disitulah tempatnya makanan dan kue yang enak-enak yaitu ditempat ’baki sajen’ selama pertunjukan wayang. Disitu ada yang namanya apem, bika ambon, kue bolu, madumongso, rengginang, bubur merah putih, lepet, kue lapis, wajik, jenang dodol, pisang dan buah-2an dll (tambahin sendiri).

Dan ’pas’ ditengah rame-ramenya pertunjukan dan pak dalang sibuk mempertunjukkan kepiawaiannya memainkan adegan perang. Saat itulah saya dan teman-teman mulai beroperasi diam-diam pada ngambilin kue ditempat sajen-nya dalang. Saya paling suka apem sama bika ambon (menurut saya paling uenak wis..). Kalau sudah merasa cukup, terus diam-diam segera kabur dari tempat tersebut.

Sempat juga sih,.. suatu ketika ketahuan penjaganya, dikejar,..lari, dan jatuh terpeleset terjerembab ketanah ber-lumpur yang habis diguyur gerimis. Untungnya nggak ketangkep dan,.. belepotan lumpur deh tuh kue. dan, cuma denger ’aja’ omelannya.

” Bocak mbedhik…..kwalaaat kamu.!!”

Merasa sayang kue apem yang berlumpur kalau dibuang, akhirnya cuma dicuci dengan air sumur terus dimakan ha ha ha…! (halah.. uenaak tenan..)

Lain masa kanak-kanak lain lagi dengan masa remaja. Yang sampai sekarang nggak pernah keturutan adalah mengajak teman perempuan nonton wayang. Karena yang jelas nggak ada yang mau, maunya kalau diajak nonton bioskop yang temanya drama cinta-cinta padahal buat saya lebih asyiik nonton film koboi, karena banyak dar,.. der …dorr – nya (waktu itu bintangnya yang lagi ngetop Franco Nero sama Client Eastwood – ada yang inget film Jango dan Fistful of Dollars??).

Jujur saja, waktu itu keinginan mengajak nonton wayang berdua itu bukan karena ceritanya bagus, tapi karena lamanya (lha wong semalam suntuk – kan asyiik!! Tapi siapa yang mau hehehe..) – Halah… untunglah, nggak pernah keturutan sampai sekarang. Nasib.. nasib.

Tapi, kini dengan berjalannya waktu, bagi saya cerita-cerita dalam pewayangan menjadi semakin menarik dan saya semakin menyukainya. Karena penuh dengan fisolofi atau falsafah hidup.

Misalnya saja dalam pergelaran wayang kulit, tanpa disadari penontonnya akan mempersepsikan bahwa wayang-wayang itu adalah manusia dengan segala macam persoalannya.

Terutama masyarakat Jawa didalam menyikapi cerita wayang, umumnya masyarakat mempunyai kesadaran sendiri dan tahu bahwa apa yang ditontonnya adalah merupakan bayangan kebanyakan perikehidupan manusia atau dirinya sendiri.

Oleh karenanya sebagai bentuk refleksi budaya Jawa, cerita wayang dapat dikatakan mencerminkan kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, baik itu moralitas, harapan, dan cita-cita kehidupan orang Jawa.

Melalui cerita wayang pula, masyarakat Jawa umumnya memberi gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup yang sesungguhnya atau bagaimana hidup itu seharusnya.

Tentu saja itu hal itu sekarang tergantung pada diri kita sendiri sebagai penontonnya. Apakah kita cuma kesengsem dan terbuai dengan gebyar tontonan wayang karena ramenya cerita dan banyak makanannya atau berusaha mengambil nilai hikmahnya sebagai tuntunan dan sikap hidup bermasyarakat.

‘Lha monggo’ … cukup menarik bukan? Maka itu – nonton wayang yuuk!!! (dhitos)


Actions

Information




%d bloggers like this: