TERIMA KASIH

11 02 2007

Di-blog ini, sebenarnya saya ingin ‘update’ dengan postingan baru, tapi sepertinya belum ada ‘ide’. disamping itu saya sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih saja, terutama, kepada rekan-rekan blogger yang sudah mau mampir di halaman blog saya. Terima kasih juga kepada yang sempat membaca postingan-2 saya. Terima kasih juga saya ucapkan kepada rekan-rekan yang telah memberi komentar baik yang dihalaman depan maupun pada setiap posting tulisan.Sudah tentu saya juga berterima kasih bahwa saya telah, serta masih mempunyai dan mengerti rasa terima kasih. Dan saya juga merasa ikut berterima kasih bahwa ungkapan terima kasih sudah menjadi bagian budaya masyarakat kita (Indonesia). Dimana-mana dikehidupan masyarakat kita sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan rasa terima kasih. Ketika si kecil yang baru bisa berbicara sewaktu diberikan sesuatu oleh sang kakak, ibu, bapak ataupun eyangnya, entah itu permen, mainan, ataupun yang lain-lainnya pasti yang pertama kali diajarkan adalah ucapan terima kasih. “hayo,.. bilang terima kasih pada kakak, ibu, bapak, eyang dst”.Walaupun ungkapan rasa terima kasih dalam setiap komunikasi masyarakat kita kalau dibandingkan budaya barat masih termasuk kurang rasa terima kasihnya tapi kita cukup pantas untuk berterima kasih.

Kita ingat waktu baru belajar berbahasa Inggris dalam setiap contoh2 ungkapan dalam contoh2 “conversation” hampir dipastikan ada kata-kata “thanks, Thank You, appreciate dsb”. Bahkan dalam kesehari-harian disetiap komunikasi berbahasa inggris dengan orang2 asing selalu tidak ketinggalan ucapan terima kasih.

Karena sudah jadi budaya dalam komunikasi, kadang-kadang ucapan terima kasih ini, lepas begitu saja tanpa ekspressi sehingga kadang-kadang menjadi seperti basa-basi. Dan kesungguhan rasa terima kasihnya diragukan ketulusannya. Inilah sesungguhnya yang harus kita sikapi agar kwalitas terima kasih kita menjadi tulus dan lebih baik.

Kalimat “terima kasih” yang hanya terdiri dua buah suku kata ini sebenarnya kalau kita mau sejenak merenungi punya makna yang amat dalam. Kalau di bahasakan dengan bahasa spiritual “terima kasih” ini sama dengan ungkapan “rasa syukur”.Rasa terima kasih atau rasa syukur inilah sebagai umat yang dianugerahi kehidupan sampai hari ini seyogyanya harus kita tingkatkan kwalitasnya. Kalau dikatakan sebenarnya sangat sederhana untuk memudahkan ungkapan rasa syukur selalu keluar dari hati kita, kalau kita mampu selalu berfikir positip didalam perjalanan kehidupan kita.Walaupun waktu kita habis untuk online kita wajib berterima kasih karena disini kita jadi banyak kawan untuk “curhat” umpamanya. Suatu saat kita dimarahi orang lain (Bos kita umpamanya) kita juga harus bisa bersyukur setidak-tidaknya kita mengetahui kesalahan kita. Kita juga berterima kasih dan bersyukur atas musibah yang kebetulan menimpa kita, setidak-tidaknya kita telah di-ingatkan olehNYA atas ketidakberdayaan umat manusia. Saya juga berterima kasih dan bersyukur telah menklipping tulisannya Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) yang ada disini berjudul “Mbok Nggak Usah Ada Neraka” sebagian kutipannya seperti berikut:

“…..Atau kalau seseorang yang baik kepada Tuhan tapi lantas diberi kemiskinan atau penderitaan, tentu yang terjadi adalah satu di antara tiga kemungkinan. Pertama, itu teguran. Alhamdulilah dong (Terima Kasih dong) kalau Tuhan berkenan mengkritik kita. Artinya. Itu artinya kita punya kans untuk menjadi lebih baik. Kedua, itu ujian. Juga alhamdulillah (terima kasih), karena hanya orang yang disediakan kenaikan pangkat saja yang boleh ikut ujian. Dan ketiga, itu hukuman. Ini lebih alhamdulillah lagi (lebih berterima kasih lagi), karena manusia selalu membutuhkan pembersihan diri, memerlukan proses pensucian dan kelahiran kembali.”

Karena sampai disini anda sudah membacanya, maka dengan setulus hati saya ucapkan Terima Kasih.


Actions

Information




%d bloggers like this: