Mengadili Pengadilan

9 10 2006

Terjadi kegaduhan di sebuah pengadilan negeri yang sedang menyidangkan perkara korupsi mantan pejabat tinggi Negara.
Seorang saksi, bernama Soleh diajukan pengacara terdakwa.

“Saudara Saksi, apakah saudara mengenal saya ?”

Tanya sang pengacara……

“Tentu saja, Martin. Bahkan sejak kau masih memakai popok. Justru saya kaget melihat kau sekarang jadi pengacara. Apa kau anggap dirimu sudah jadi pengacara jagoan? Padahal kau tak lebih baik dari penjahat licik. Dari kecil kau suka mencuri mangga tetangga. Bahkan minggu lalu kau kan berusaha menyuapku agar memberikan keterangan sesuai dengan kemauanmu. Kasihan sekali almarhum ibumu, beliau pasti menangis menyaksikan anaknya seperti ini”

“Maaf, saudara saksi”

Martin sang pengacara dengan muka agak memerah, segera menginterupsi penjelasan saksi lantaran pengunjung mulai riuh dan berisik.

“Tolong jawab pertanyaan dengan singkat. Apakah saudara juga mengenal saudara Jaksa penuntut umum?”

Ujar Martin sambil menunjuk jaksa yang duduk diseberang.

“Ya. Saya juga kenal. Dia itu adalah Willy si tukang tipu.”

Mendengar itu pengunjung sidang makin bertambah gaduh. Terdakwa masih melanjutkan:

“Dalam banyak hal Willy itu selalu tidak jujur. Bayangkan, untuk jadi sarjana hukum ia membayar orang lain untuk menggarap skripsinya. Saya juga tahu ia telah memeras terdakwa agar terbebas dari tuntutan ‘kan?..”

Jaksa penuntut yang ditunjuk kontan pucat pasi. Ditengah cemooh para pengunjung sidang, sang jaksa menutup muka dengan kedua telapak tangannya, sepertinya tak kuasa menahan malu.

Untuk menertipkan jalannya persidangan, hakim dengan jeli segera mengetok palu di meja ( barangkali untuk mengantisipasi serangan saksi..?).

“Tolong catat, apabila saudara Pembela juga menanyakan kepada saksi apakah mengenal saya”

gertak sang hakim, sambil kemudian meneruskan,

“Saya akan menuntut saudara ‘contempt of court’. Mengerti!”

Ilustrasi diatas seakan mengatakan, hukum itu seperti sarang laba-laba yang dapat menangkap lalat, tetapi membiarkan para elang penjaganya mempermainkan jarring-jaringnya untuk menerobos.
Bagaimana mau mengusung semangat ‘fiat justitia, ruat caelum’ (keadilan harus ditegakkan, sekalipun langit akan runtuh), bila pengadilanpun masih harus “diadili” oleh masyarakat pencari keadilan? (*/Djs)

    (Sumber: Lentera, Intisari edisi Oktober 2006, sedikit di-edit tanpa mengurangi maknanya – /dhitos)

Actions

Information




%d bloggers like this: