KANG SEJO MELIHAT TUHAN

21 08 2006

Berikut adalah artikel tulisannya Pak M. Sobary (yang sudah dianggap manusia setengah Sufi) yang lain, yang kemudian dijadikan judul kumpulan artikelnya. Masih sangat enak untuk dibaca ulang sebagai informasi dan renungan  karena  masih “relevan dan cukup untuk mewakili kondisi masyarakat sekarang. Sengaja saya posting ulang untuk “share” bagi yang belum pernah membacanya disamping sebagai arsip dokumen saya sendiri. (+dhitos+)

Bukan salah saya kalau suatu  hari  saya  ceramah  agama  di depan  sejumlah  mahasiswa  Monash  yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti  panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti  halal  “meat”.  Dan,  semangat  mesti  ditujukan   buat meng-Islam-kan  orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya  campur  aduk  dengan wayang.  Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab  ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita.

Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir  qolbi.  Jasad  di bumi,  roh  menemui  Tuhan.  Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi.

Biar  masih  muda,  hidup  Gatutkaca  seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat …

Juli  tahun  lalu  saya  dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya  pendek.  Bukan   harfiah   cuma   berdoa   sebentar. Maksudnya,  tak  banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan.

“Dan itu betul. Artinya, banyak  ilmu  ndak  diamalkan  buat apa?”   kata   Pak   Kiai  sambil  bergolek-golek  di  Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yang  lebih  indah  dalam  hidup  ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat. 

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut  “raja.”  Wanita  ini hamba  yang  total.  Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi.  Pernah  ia berkata,  “Bila  Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan  itu  pada  musuh-musuh-Mu.  Dan  bila   ingin   Kau limpahkan    padaku    nikmat   surgawi,   berikanlah   pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup.”

Ini tentu berkat  ke-“raja”-annya.  Lumrah.  Lain  bila  itu terjadi  pada  Kang  Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra.

Kang Sejo pendek pula  doanya.  Bahasa  Arab  ia  tak  tahu. Doanya  bahasa  Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat.  Soal  ruwet apa  pun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur …” Cuma itu.

“Memang  sederhana,  wong  hidup  ini  pun   dasarnya   juga sederhana,” katanya, sambil memijit saya.

Saya  tertarik  cara  hidupnya.  Saya  belajar. Guru saya ya orang  macam  ini,  antara  lain.   Rumahnya   di   Klender. Kantornya,  panti  pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela  memijit,  dia  bilang, “Zikir  Duh, Gusti …” Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti … itu. Satu  tapi  jelas di tangan.

“Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?” tanya saya.

“Tidak saya hitung.”

“Lho,  apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu,” kata saya 

“Monggo mawon (ya, terserah saja),” jawabnya. “Tuhan memberi kita  rezeki  tanpa  hitungan,  kok.  Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”

“Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang,” saya memuji.

“Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid.” Dia lalu ketawa.

Diam-diam  ia  sudah  naik  haji.  Langganan  lama,  seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

‘Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?”

“Itu   kan  rezeki.  Dan  rezeki  datang dari sumber yang tak terduga,” katanya.

“Ayat menyebutkan itu, Kang.”

“Monggo mawon. Saya tidak tahu.”

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

“Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?”

“Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain …”

“Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan.”

Ia, konon, pernah menolak zakat  dari  seorang  tetangganya. Karena  disodor-sodori,  ia  menyebut, “Duh, Gusti, yang tak pernah  tidur  …”  Pemberi  zakat  itu,  entah  bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.

“Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram”? tanya saya.

“Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali.”

“Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?”

“Gusti Allah ora sare, Mas,” jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo.  Ibarat  berjalan,  kau  telah sampai.  Dalam  kegelapan  matamu  kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus

(Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991)


Actions

Information




%d bloggers like this: