ADA APA DENGAN UMUR SAYA..?

18 08 2006

Sebenarnya tulisan yang saya posting berikut ini adalah sebuah komentar saya pada blognya Mas Fere yang berjudul “Menghitung Umur…”, disamping sengaja saya pajang sebagai postingan untuk di “share” juga sebagai arsip tulisan saya sendiri. (baca juga tulisan saya yang berkaitan “Saya Sebenarnya Mau Jadi Apa?!” )

Ketika kita menghitung umur, kita seperti sedang menyanyikan lagunya KD “menghitung hari”, tapi menuju hari yang dipastikan yaitu Mati, cepat atau lambat. Adakah hal demikian menjadikan rasa gelisah dan ketakutan? Dan apa yang sudah kita lakukan sampai dengan hari ini?…

Apakah kita sudah terjebak terlalu jauh dengan apa yang sedang kita jalani?, menelusuri setiap keinginan apapun itu, baik atau buruk yang terus berjalan tanpa kepastian. Dia bisa tumpang tindih meninggalkan yang dulu kita kejar-kejar, sementara kita mengejar sesuatu yang lain,yang muncul lagi kemudian, yang juga tidak pasti dan begitu seterusnya selagi kita masih hidup dan mulailah kemudian kita menghitung mundur bertanya-tanya dalam kegelisahan.

Sebenarnya adalah sesuatu yang wajar dan baik, ada kegelisahan ketika umur kita mulai berkurang dengan berjalannya waktu. Karena sesungguhnya kita sedang bertanya tentang kesiapan kita menuju hari yang dipastikan. Dan pertanyaan itulah yang mengingatkan kita.

Tapi kita kadang berbuat sesuatu untuk mengabaikannya. Itulah sebabnya seolah kita tak pernah mengerti, sejauh mana kita sudah berjalan.

Kita seperti sengaja mengabaikannya meskipun kita seringkali melihat kematian yang menghentikan kehidupan, namun kita jarang sekali segera berhenti untuk merenungkan bahwa kitapun dapat dengan segera menjadi korban dari hari yang sudah pasti (maut).

Hal demikian dikarenakan keterikatan kita yang kuat terhadap kehidupan dunia, maka merasa segan untuk membawa-bawa pikiran yang menakutkan tersebut, walaupun hal itu merupakan suatu kenyataan bahwa kematian adalah suatu kejadian yang pasti.

Jika saja kita dapat menghargai peristiwa seperti itu dan melengkapi diri dengan kesadaran bahwa kematian merupakan suatu peristiwa tak terelakkan, yang harus diterima sebagai suatu kejadian biasa dan bukan merupakan suatu peristiwa yang menakutkan. Maka kita akan mampu menghadapinya bilamana peristiwa itu tiba, dengan ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri.

Kenapa kita tidak segera mulai bertanya dan belajar untuk mengerti, bukankah itu sudah sangat jelas bahwa betapa sangat pendeknya arti kehidupan yang sedang kita jalani. Tapi itulah sebuah kesempatan yang telah diberikanNYA kepada kita. Kitapun wajib mensyukurinya dengan memahaminya, karena itu sebuah Anugerah dariNYA. Kalau tidak kita selamanya tidak akan pernah siap. Dan pada saatnya kita tetap dalam kegelisahan dan tak akan pernah tahu. (dhitos, @Agustus 2006)


Actions

Information




%d bloggers like this: