DARI UNEG-UNEG KOK JADI MARAH !

8 08 2006

Kata “uneg-uneg” seingat saya adalah ungkapan bahasa Jawa, bahasa Indonesianya kira-kira “sesuatu perasaan yang mengganjal di hati yang ingin diungkapkan” tapi lebih pas dan enak kalau ya..tetap “uneg-uneg”. Rasa ‘uneg-uneg’ ini kalau diungkapkan kepada seseorang jadi “curhat”, tapi kalau datangnya dari sesuatu kelompok bisa berubah jadi demo. Kalau diungkapkan dengan emosional bisa jadi marah-marah dan satunya lagi jadi demo disertai tindakan anarkis.


Adalagi  “uneg-uneg” seseorang yang pengungkapannya dijadikan tulisan. Seperti ini banyak kita jumpai di blog-blog yang biasa kita baca, dan hampir semua blog, tulisan2 dimajalah, Koran ataupun media-2 berbentuk tulisan hampir bermakna semacam “uneg-uneg”.
Ada yang bercerita, ada yang berpuisi, ada yang memberikan informasi, juga tidak terkecuali tulisan saya ini yang sedang anda baca, dan lain-lain, semua itu sumbernya bermula dari adanya uneg-uneg.

Uneg-uneg ini kalau sudah diungkapkan rasanya lega atau “mak…plong!!”, walaupun masih juga ada yang mengganjal ketika solusinya belum diketemukan. Uneg-uneg itu sendiri berasal sesuatu yang tidak kita inginkan telah terjadi, bisa berupa sesuatu yang terakumulasi sedemikian atau spotanitas yang terpendam dihati dan belum sempat kita ungkapkan.

Kata uneg-uneg yang telah saya sebut diatas sesungguhnya terbagi ada 2 jenis, yang bisa dikontrol oleh akal dan yang tidak bisa dikontrol oleh akal. Jenis yang pertama yang bisa dikontrol oleh akal tidak terlalu menimbulkan masalah. Karena dengan adanya sinergi pemikiran setelah uneg-uneg diungkapkan biasanya akan menemukan solusi yang dapat meredam adanya uneg-uneg tersebut.

Sedang untuk jenis yang kedua uneg-uneg yang tidak bisa dikontrol oleh akal atau emosinya yang lebih berperan, ini peredamannya tidak sederhana dan mudah. Uneg-uneg disini sudah berubah bentuknya menjadi marah-marah.

Dan, kita semua pasti pernah mengalami rasa marah sekaligus juga pernah mencoba meredakan marah, tetapi sebenarnya menahan diri dari rasa marah tampaknya seperti tidak memberikan solusi atau memecahkan masalahnya. Karena akan tetap terasa mengganjal dihati dan uneg-uneg rasa marah ada yang setiap saat bisa saja meledak lagi.

Seperti telah saya singgung diatas uneg-uneg yang sudah berubah jadi rasa marah sebenarnya muncul dari rasa keinginan kita yang tidak tercapai dan sudah terakumulasi sedemikian, atau reaksi pertahanan terhadap diri kita terzalimi, atau juga kenyamanan yang kita bangun dengan sungguh2 terancam dan semacamnya. Ini bisa muncul meledak kalau sesudah terakumulasi sedemikian atau bisa juga dengan spontanitas (umumnya sebab secara fisik – terpukul misalnya). Bagaimana kemudian kita mengatasinya ?

Sebenarnya rasa marah atau uneg-uneg terungkap secara emosional bisa diredam dengan bantuan kontrol akal yaitu dengan mau memahami sebab-sebabnya. Mungkin kalimat seperti ini diperlukan “perlukah saya marah?” atau “kenapa saya harus marah?”, Mungkin ada yang lebih sederhana lagi kalau kita mengingat, ketika dulu sedang marah “sebenarnya siapakah yang sakit kalau sedang marah?” kita sendiri bukan?!

Ada yang bilang bahwa untuk meredam rasa marah secara total kita harus dan perlu kesadaran, keikhlasan dan sifat eling terhadap Yang Maha Kuasa.

Adakah cara lain agar uneg-uneg anda tidak menjadi marah-marah…? (+dhitos+)

Renungan:

Ketika ada ketidakadilan anda marah,
Apakah karena itu anda mencintai kemanusiaan?
Apakah karena itu anda punya kasih sayang?
Dapatkah marah berada bersamaan dengan kasih sayang?

Mungkinkah ada keadilan ketika sedang marah?
Ketika ada ketidakadilan anda marah
Dengan marah anda tidak akan mengubah ketidakadilan
Dengan marah anda menciptakan kemarahan, itu merugikan
Dengan marah tidak mungkin ada kebajikan
Karena marah dan kebajikan tidak mungkin berada bersamaan

Karenanya perlu berfikir ulang dengan penuh kasih sayang


Actions

Information




%d bloggers like this: