DOA KANG SUTO

31 07 2006

M.Sobary adalah seorang budayawan berasal dari Jawa, kata orang setengah sufi, berikut ada tulisannya yang menarik yang sengaja saya posting, untuk dibaca ulang.

Pernah saya tinggal di Perumnas  Klender.  Rumah  itu  dekat mesjid  yang  sibuk.  Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati.  Tak  cuma  di  mesjid.  Di rumah-rumah  pun  setiap  habis  magrib  saya temui kelompok orang belajar  membaca  Al  Quran.  Anak-anak,  ibu-ibu  dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

…tambah rame lanjutannya..>>





MBOK NGGAK USAH ADA NERAKA …..

26 07 2006

Ngefans dengan tulisan Cak Nun yang budayawan, yang juga dijuluki kyai dengan ke-mbelingannya dalam hal mencoretkan penanya, saya telah banyak terinspirasi dalam hal menulis, tulisan humor berikut ini bernuansa Parodi kehidupan cukup enak dan perlu dibaca ulang. Humor spiritual yang dapat membuat kita tertawa, menertawakan diri sendiri. (+dhitos+) 

Setiap calon santri di padepokan Sang Sunan, di test dulu bagaimana ia membaca kalimat Syahadat. Dan Saridin memiliki lafal dan caranya sendiri dalam bersyahadat. … baca lanjutannya …>>





JUARA ITU TIDAK ADA

6 07 2006

“Maka ketika kaya, sadarilah miskinmu. Tatkala menang, sadarilah kalahmu. Di waktu jaya, renungilah keterpurukanmu. Pada saat engkau hebat, ingat-ingatlah kemungkinan konyolmu….”

Budayawan satu ini memang huuueebatt .. tenan setiap goresan penanya pantas kita jadikan renungan. +dhitos+

Juara Itu Tidak Ada.

Sesungguhnya yang disebut juara, atau eksistensi sebuah kemenangan — itu hakekatnya tidak berlaku begitu sebuah pertandingan berakhir dan tanda kejuaraan disematkan kepada sang juara.

Sebuah tim olah raga atau seorang atlet memenangkan pertarungan melawan tim lainnya sehingga sesudah pertandingan ia dijunjung sebagai juara. Kalau sesusah penobatan gelar juara diselenggarakan lagi pertandingan antara kedua tim itu, maka tidak seorangpun bisa memastikan bahwa sang juara akan pasti menang lagi.

….baca terusannya..>>





NIKMATNYA KEKALAHAN

6 07 2006

Tulisan-nya Cak Nun yang dikenal dengan kyai mBeling dibawah ini adalah klipping simpenan, yang saya comot tahun 2003-an dari site-nya  Cak Nun, waktu itu masih di padhanbulan.com tapi kok sekarang ilang ( apa ada yang tahu ya??)  – saya sangat menyukai pesan-pesannya, dan segaja saya posting kembali, mumpung masih suasana Piala Dunia, walau tentunya sudah tidak cocok lagi dengan Piala Dunia 2006,  (karena kaitannya tulisan dengan PD 2002  dan untuk yang sudah pernah membacanya – masih enak kok dibaca ulang..) +dhitos+

Setiap kesebelasan negara-negara yang tampil di Piala Dunia, termasuk jutaan suporternya masing-masing, berdoa khusyuk kepada Tuhan agar mereka mendapatkan kemenangan. Saya bertanya, kalau Anda menjadi Tuhan: apa yang terbersit dalam pikiran Anda, dan bagaimana menata keadilan dalam mengabulkan doa-doa yang semuanya memojokkan Anda?

Kalau memakai pola pemikiran linier, maka doa kesebelasan manapun yang Anda kabulkan, pasti selalu mengandung unsur ketidakadilan. Kalau Anda mengabulkan doa A, Anda menyakiti B. Demikian pula kalau Anda mengabulkan harapan B, Anda menghancurkan hati A. Bahkan kehancuran itu bisa berupa kematian. Seorang Ibu pendukung kesebelasan Cina meninggal karena gawangnya digedor-gedor habis oleh kesebelasan ‘agama’ sepakbola, yakni Brazil. Seorang Ibu Argentina menyaksikan kesebelasannya bertanding sambil membawa rosario di tangan kirinya dan Kitab di tangan kanannya – kemudian ternyata Argentina angkat koper gulung tikar.

Maka sesungguhnya yang harus diperkarakan, dipikir ulang, dibenahi benar-tidaknya – adalah konsep dan filosofi tentang kemenangan dan kekalahan. Anda yang berpikiran linier-sekuler dan meyakini hidup di dunia adalah segala-galanya, berbeda dengan Anda yang memiliki perspektif dunia-akhirat, pola horizontal-vertikal, yang menemukan bahwa menang kalah di dunia bukan akhir segala-galanya. Yang potensial untuk frustrasi dan stress adalah Anda yang pertama. Tetapi Anda yang kedua, juga potensial untuk naïf, fatal dan pasif dalam perjuangan hidup.

Seorang yang sejak awal memasuki atmosfir Piala Dunia dengan menjagokan Perancis, pagi-pagi sudah harus kukut, dan setap pertandingan sesudah Perancis hancur menjadi sepo dan tidak menarik. Anda yang terlalu pecaya kepada kegagahan, kehebatan dan keunggulan – tidak bisa mengerti kenapa Belanda tak bisa masuk ke Piala Dunia sementara Belgia, tetangganya sesama Benelux, malah lancar. Mungkin Anda mencoba memaafkan bahwa pabrik pemain, Ayax Amsterdam, memang sedang berada pada periode nadir dari produksi dan kreativitasnya, sehingga Belanda kekurangan stok.

Untung Italia tertolong. Tetapi susah payahnya kesebelasan pusat football market ini memberi memberi pelajaran kepada kita tentang kasunyatan bahwa yang popular tidak pasti lebih hebat dibanding yang tak pernah disebut-sebut. Bahwa yang diungguh-unggulkan di media massa tidak pasti berkapasitas Nabi yang punya mukjizat dan pasti menang. Ayatnya berbunyi : ‘Asa an takrohu syai-an wa huwa khoirul lakum, wa ‘asa an tuhibbu syai-an wa huwa syarrul lakum…’.

Sesuatu, figure, kelompok, tokoh, tim, atau apapun yang kau tak sukai mungkin justru itu yang sesungguhnya kau butuhkan. Sementara yang engkau junjung-junjung sebenarnya ia yang mencelakakanmu. Kalau boleh mengingatkan, hal inilah yang memperpanjang kehancuran Indonesia…

Halo Zidan, hai Figo, hee Batistuta…pada hakekatnya kekalahan adalah setinggi-tinggi ilmu pengetahuan. Untuk mengalami kemenangan, tak membutuhkan persiapan mental sejauh dan seberat mengalami kekalahan. Banyak orang lemah yang hanya bisa percaya diri hidupnya kalau ia punya kekayaan. Begitu ia miskin, hancur hatinya. Sementara ada puluhan juta orang kuat yang meskipun hidupnya miskin tetap bisa bahagia dan ceria. Demikianlah banyak orang-orang lemah yang untuk bisa hidup ia membutuhkan jabatan, butuh menyakiti orang lain, butuh mengungguli orang lain, butuh menang atas orang lain, butuh menjadi pejabat, butuh menjadi direktur, butuh menjadi sarjana dan doctor. Kalau mereka tak memiliki itu semua, hancur hatinya.

Terpaksa saya bercerita tentang hati saya. Demi Allah, saya tidak membutuhkan kemenangan atas siapapun saja kecuali atas diri saya sendiri. Menang saja saya tak mau, apalagi kalah.

Anda dan saya bisa hidup tenang bahagia gembira cukup dengan menjadi rakyat biasa, yang tidak kaya, tidak punya gelar dan jabatan. Anda menjadi rakyat saja berani, apalagi sekedar menjadi Presiden.(Emha Ainun Nadjib, Juni 2002).





Di Balik Otak Si Pemalu

5 07 2006

Mungkin akan terasa begitu senyap bila kita berada di dekat seseorang yang bersifat pemalu. Yang jelas, apa yang ada di dalam kepala mereka jauh lebih semarak ketimbang penampilan luarnya. Ketika menemukan suasana menakutkan, bagian otak yang bertanggung jawab pada emosi negatif bekerja semakin cepat.

Demikian pula bila mereka menemui suasana yang jarang terjadi, seperti ketika berjumpa dengan orang baru. Tak hanya itu, sebuah riset terbaru membuktikan bahwa si pemalu lebih sensitif terhadap semua bentuk stimulasi.
Penemuan itu dikemukakan pada Journal of Neuroscience, setelah penelitian sampel scan otak 13 remaja sangat pemalu dan 19 remaja yang lebih supel. Pemimpin riset, Amanda Guyer, mengatakan penelitian dilakukan dengan menempatkan alat magnetic resonance imaging pada saat mereka bermain game.

Mereka diinstruksikan memencet sebuah tombol secepat mungkin, tepat setelah aba-aba sinyal diperlihatkan. Bila tombol dipencet pada waktunya, mereka memenangi uang, atau paling tidak menghindarkan mereka dari kehilangan uang.

Dua kelompok yang dites, remaja pemalu dan remaja yang supel, tak menunjukkan perbedaan aktivitas pada amygdalas mereka. Amygdalas adalah wilayah otak yang mengatur rasa khawatir. Tapi remaja pemalu memiliki aktivitas striatum dua atau tiga kali lebih tinggi daripada remaja supel. Striatum adalah bagian otak yang berkaitan dengan penghargaan.

“Hingga sekarang, banyak orang mengira sifat pemalu berkaitan dengan sikap menghindar dari lingkungan sosial,” ujar peneliti sekaligus ahli psikiatri anak Monique Ernst. “Ternyata anak pemalu memiliki aktivitas lebih tinggi pada bagian otak mereka yang berkaitan dengan penghargaan.”

Menurut Guyer, yang juga ahli psikologi pada Institut Kesehatan Nasional di Bethesda Maryland, Amerika Serikat, seorang anak yang sangat pemalu mengalami sensitivitas lebih pada berbagai tipe stimulasi, misalnya rasa takut ataupun penghargaan.

Mauricio Delgado, psikolog pada universitas Rutger di Newark, New Jersey, menyatakan peningkatan aktivitas pada striatum mungkin bisa menolong anak pemalu mengatasi situasi cemas ketika menghadapi suasana penuh tekanan, walaupun hal itu tak cukup untuk mengatasi rasa malu mereka sendiri.

Penemuan ini, menurut Brian Knutson, psikolog Universitas Stanford di Palo Alto,
California, cukup membantu para periset memahami kenapa anak pemalu menghadapi banyak problem kejiwaan di kehidupan mereka selanjutnya. Sebab, mereka lebih sensitif saat mengalami suasana kemenangan ataupun kekalahan. Hal ini menempatkan mereka pada pengalaman suasana emosi lebih kuat dibandingkan dengan orang lain.

Di satu sisi, sifat pemalu menyebabkan mereka memiliki risiko kelainan emosional, seperti kecemasan dan depresi. Di sisi lain, seorang anak pemalu justru mengalami emosi positif lebih kuat saat mengalami keberhasilan. Hal itu, Knutson menambahkan, membantu mereka semakin sukses.

Postingan diatas tak comot dari sini…