Mitos perlu dilestarikan ?

16 06 2006

Untuk mengawali pengisian blog ini saya akan coba menulis sebagai komentar berita yang baru-2 ini begitu marak dan ”booming”. Baik  itu di media konvensional, elektronik  ataupun ”cuap-cuap” informatif yang menarik dari para blogger,  yaitu masalah Mitology atau Mitos yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta, berkaitan dengan mulai aktifnya gunung Merapi maupun  bencana Gempa Bumi.

Kita tahu, Yogyakarta, adalah kota sebagai pusat budaya jawa, yang identik, kental dan erat sekali dengan dunia mitology. Untuk tetap melestarikan budaya jawa mau tidak mau kita juga harus melestarikan mitology itu sendiri. Disini dilemanya karena akan berbenturan dengan kaidah2 agama dan ilmu pengetahuan. Untuk itu kita harus bisa bijak dalam menyikapinya sehingga terjadi  keseimbangan penalaran.

Saya mengutip sebagian dari artikel Pendekatan Jurnalisme Bencana  yang di tulis oleh Pak  Amiruddin. wakil ketua KPID Jateng, dosen ilmu komunikasi FISIP Undip di harian suara merdeka.

”Banyak mistik, legenda, atau bahkan folklor yang tetap hidup dan dipelihara secara turun-temurun. Kekuatan keyakinan mistik itu melebihi kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi warga masyarakat di sana termasuk dalam kategori masyarakat sederhana (peasant society) yang hidup subsisten dan telah menyatu dengan alam..”

Dengan kondisi masyarakat yang demikian adalah sangat diperlukan penjelasan logis tentang mitology itu sendiri. Tapi yang terjadi adalah maraknya pemberitaan menjadikan kita seperti malakukan proses pembenaran terhadap adanya mitos itu.

Keyakinan tentang budaya mitos ini sebenarnya bisa kita analogikan dengan logika sederhana; Keyakinan Mitos bersumber pada Hikayat, dongeng, cerita (”ditambah gosip”) yang turun-temurun masyarakat setempat yang tidak terbukukan tapi diyakini dan dipercayai oleh masyarakat tersebut sehingga menjadi tradisi dan budaya.

Sementara Agama bersumberkan pada wahyu, terbukukan, terorganisir ditunjang disertai bukti-bukti sejarah baik itu ditunjang ilmu pengetahuan dengan tingkat keyakinan yang tinggi sebagian besar penganutnya.

Dus…artinya ada ”gap” logika penalaran dan memerlukan tantangan kita terutama para ulama-ulama dan pakar pengetahuan untuk memperbaikinya terjun kelapangan memberikan penyuluhan-penyuluhan mengenai kekeliruan mitos dan semacamnya terhadap lingkungan masyarakat yang semacam ini. Untuk menghilangkan 100 proses Masalah mitos ini jelas tidak mungkin karena manusia sebagai individu juga memiliki memiliki keyakinan tentang mitos itu sendiri dalam porsi yang berbeda, yang juga belum mampu dijangkau oleh ilmu pengetahuan.Untuk para jurnalis saya sependapat dengan artikelnya pak Amiruddin tersebut diatas yang menyatakan pada bagian tulisannya yang lain,

”Media memiliki tanggungjawab pula untuk mengungkapkan berbagai sistem nilai dan budaya yang berlaku di warga masyarakat sekitar. Jadi menurut penulis, jurnalis bisa pula menjalankan peran sebagai fotografer yang mampu mengungkapkan fenomena bencana alam itu dari berbagi segi secara lengkap dan mendalam. Mulai dari fenomena budaya yang tampak (visible) maupun yang tidak tampak yang dimiliki warga masyarakat sekitar.”

”Dalam perspektif itu, jurnalisme adalah satu-satunya harapan yang dapat menyatukan, mengintegrasikan pengetahuan lokal, pemerintah, dan juga pengetahuan yang terkandung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari situ penanganan terhadap kemungkinan dampak buruk dari meletusnya Gunung Merapi saya yakin akan dapat berlangsung maksimal karena bantuan kerja jurnalisme kita yang amat luhur.”

Perjuangan Sunan Kalijaga memang masih belum selesai dan kita perlu meneruskannya.

+dhitos+


Actions

Information




%d bloggers like this: