<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DHITOS</title>
	<atom:link href="http://dhitos.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dhitos.wordpress.com</link>
	<description>Blog asal nulis</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 14:10:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dhitos.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DHITOS</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dhitos.wordpress.com/osd.xml" title="DHITOS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dhitos.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menampilkan Fiqih Yang Bersahabat dengan Perempuan</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/29/menampilkan-fiqih-yang-bersahabat-dengan-perempuan/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/29/menampilkan-fiqih-yang-bersahabat-dengan-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 03:54:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[(Sebuah lagi kutipan menarik dari tulisan yang berjudul: Feminimisme dan Kesalahan Paradigma &#8211; Oleh: Dina Y. Sulaeman ). &#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Bila dikaji lebih cermat, berbagai dalil yang dikemukakan dalam memposisikan perempuan, sering tidak dipaparkan sesuai konteks, atau malah hanya disampaikan sebagian saja. Misalnya, hadis, &#8220;Barangsiapa menuruti istrinya, maka ia masuk neraka&#8221;, sesungguhnya masih ada lanjutannya: Seseorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=86&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<blockquote><p><em><font color="#993366">(Sebuah lagi kutipan menarik dari tulisan yang berjudul: Feminimisme dan Kesalahan Paradigma &#8211; Oleh: Dina Y. Sulaeman ).</font></em></p></blockquote>
</blockquote>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Bila dikaji lebih cermat, berbagai dalil yang dikemukakan dalam memposisikan perempuan, sering tidak dipaparkan sesuai konteks, atau malah hanya disampaikan sebagian saja. Misalnya, hadis, &#8220;Barangsiapa menuruti istrinya, maka ia masuk neraka&#8221;, sesungguhnya masih ada lanjutannya: Seseorang lalu bertanya kepada Rasulullah, &#8220;Apa yang dimaksud dengan menuruti?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Yaitu, bila suami memperbolehkan istrinya pergi ke kolam renang, <span id="more-86"></span>pesta perkawinan, perayaan, dan ke tempat orang meninggal, dengan menggunakan pakaian tipis dan sangat halus.&#8221; Dengan demikian, jelaslah bahwa &#8220;menuruti&#8221; di sini adalah mengizinkan perempuan untuk berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Mengenakan pakaian tipis keluar rumah memang jelas-jelas dilarang syariat. Namun karena tidak disampaikan secara utuh, hadis ini seolah-olah melarang laki-laki menuruti permintaan atau saran dari istri secara keseluruhan.</p>
<p>Sementara itu, hadis tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan, sesungguhnya telah disampaikan tanpa menyebutkan pendahuluannya sbb. &#8220;Ketika Rasulullah Saw. mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, &#8220;Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.&#8221; (Diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa&#8217;i, dan Ahmad melalui Abu Bakrah). Jadi, hadis tersebut di atas ditujukan kepada masyarakat Persia ketika itu, bukan terhadap semua masyarakat dan dalam semua urusan.</p>
<p>Mengenai hadis-hadis tentang kurang akalnya perempuan, mungkin bisa dicari jawabannya dari sisi psikologis atau konteks zaman, (atau mungkin bisa ditelusuri kesahihan hadis tersebut), sehingga kesan yang ditimbulkan bahwa Islam memandang rendah perempuan bisa dieliminasi. Karena, secara jelas dan tegas, Islam memang tidak pernah memandang rendah perempuan. Berbagai ayat Al Quran (3:195, 4:124, 16:97, 9:71-72, 33:35) secara tegas dan jelas memposisikan perempuan dan laki-laki secara setara dalam kewajiban mereka menegakkan nilai-nilai Islam, adanya sanksi yang sama terhadap perempuan dan lelaki untuk semua kesalahan mereka, serta adanya pahala yang sama untuk amal saleh mereka. Satu-satunya faktor yang membedakan perempuan dan laki-laki di hadapan Allah SWT adalah keimanan dan ketakwaan mereka masing-masing.</p>
<p>Dalam masalah hukum waris yang sering diperdebatkan oleh kaum feminis (pelaku gerakan emansipasi &#8211; red), dan dituduh sebagai salah satu bentuk ketidakadilan Islam terhadap perempuan (karena perempuan hanya diberi setengah), sebenarnya bisa dibahas sbb. &#8220;Pada dasarnya Islam mensyariatkan untuk memberi imbalan yang sama atas prestasi yang sama, tidak pandang laki-laki atau perempuan, sedangkan soal waris bukanlah soal prestasi. Hukum ini harus didudukkan bersama-sama dengan hukum nafkah. Laki-laki wajib menafkahi saudara perempuannya, sedangkan perempuan tidak wajib menafkahi siapapun. Tanggung jawab keluarga dibebankan pada lelaki. Jika tanggungjawab ini tidak dijalankan, negara berhak campur tangan dan memaksanya sehingga hak-hak si perempuan itu tetap terpenuhi. Jadi, syariat Islam tidak berdiri sendiri-sendiri. Nikah, waris, nafkah saling berkaitan erat. Tidak bisa dipandang secara parsial.&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211; Tanpa penafsiran filosofis, hukum Islam akan dipahami secara salah. Seperti yang dikemukakan oleh Syahid Murtadha Muthahhari,&#8221;Masalah seputar hak-hak dan hukum perempuan dari sudut pandang Islam, yang muncul dalam masyarakat kita hari ini, selain memiliki dimensi praktis juga memiliki akar pada masalah keimanan. Saat ini, ada berbagai kepercayaan dalam masyarakat yang tidak memiliki dasar, tapi kepercayaan itu dinisbatkan kepada Islam. Di sisi lain, berbagai perintah Islam yang hakiki belum dipahami oleh masyarakat karena nilai falsafah yang ada di dalamnya belum dijelaskan. Akibat dari semua itu adalah disalahgunakannya berbagai aturan dalam agama Islam tentang wanita oleh pihak luar, sebagai cara untuk menyerang dasar-dasar agama Islam.&#8221;</p>
<p>Sebagai contoh praktis dalam hal ini adalah dalam menyampaikan masalah kewajiban hijab. Ketika kita hendak membahas masalah jilbab, umumnya, pembahasan yang dikemukakan adalah berkaitan seputar ayat dan hadis yang memberikan perintah hijab kepada kaum muslimah. Cara ini akan terus mendapatkan jawaban negatif dari para pendukung feminisme, karena mereka akan mempersoalkan tafsir ayat dan hadist tersebut dengan mengemukakan penafsiran dari para ulama yang tidak mewajibkan hijab.</p>
<p>Coba kita perhatikan bagaimana konsep hijab ini disampaikan oleh Sultana Yusuf Ali, seorang remaja Kanada, berikut ini.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Saya sangat bersyukur karena tidak pernah menderita nasib harus bersusah-payah menaikkan atau menurunkan berat badan, serta mencari-cari warna lipstik yang sesuai dengan warna kulit saya. Saya telah membuat pilihan tentang apa yang menjadi prioritas, dan hal-hal seperti itu (kelangsingan badan, warna lipstik) bukanlah prioritas saya. Jadi lain kali, jika Anda melihat saya (menggunakan jilbab), jangan memandang saya dengan kasihan. Saya tidak sedang berada dalam paksaan dan saya bukan perempuan pengabdi laki-laki, yang menjadi tawanan di gurun sahara Arab. Saya telah terbebaskan.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Dalam kacamata remaja muslimah ini, jilbab justru merupakan simbol kebebasan, yaitu kebebasan dari tatapan orang lain yang menilai postur tubuh, tata rambut, kecocokan baju dengan warna kulit, atau merek T-shirt yang dipakai. Sultana Yusuf Ali mengatakan, &#8220;My body is my own business&#8221; (Tubuh saya adalah urusan saya sendiri). Dalam bahasa yang sederhana dan &#8220;funky&#8221;, sesungguhnya Sultana Yusuf Ali tengah menyampaikan filosofi dari jilbab, yaitu membebaskan perempuan dari penilaian &#8220;kulit luar&#8221; dan perempuan akan dinilai dari akhlak, watak, dan keilmuannya. Nah, penjelasan atas filosofi sebuah hukum syari&#8217;i, terutama yang menyangkut tentang perempuan, yang telah disampaikan oleh para ulama ini adalah hal yang penting untuk disebarluaskan.&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Semoga ada manfaatnya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=86&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/29/menampilkan-fiqih-yang-bersahabat-dengan-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BIARKANLAH,..WANITA BERJUANG !</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/29/biarkanlahwanita-berjuang/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/29/biarkanlahwanita-berjuang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 03:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>
		<category><![CDATA[Pojok Sobary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Dari pergerakan Kebangkitan-kebangkitan yang muncul dengan bergeraknya jaman muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Salah satunya adalah Pergerakan wanita yang lebih di kenal dengan gerakan feminisme. &#8212;&#8212;- Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=85&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari pergerakan Kebangkitan-kebangkitan yang muncul dengan bergeraknya jaman muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Salah satunya adalah Pergerakan wanita yang lebih di kenal dengan gerakan feminisme.<br />
&#8212;&#8212;- Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.&#8212;&#8212; <span id="more-85"></span>(Oleh: Khairi Fitrian Jamalullail, &#8211; Hak-Hak Perempuan dalam Perspektif Imam Khomeyni (ra) )</p>
<p>&#8212;- Kesalahan perspektif terhadap konsep di dalam Islam telah sampai pada pembahasan perempuan, yang oleh sebagian kalangan masih dianggap tabu. Walaupun pembahasan perspektif gender dalam Islam telah muncul sejak kelahirannya, namun ketika terjadi benturan dengan tuntutan sosial misalnya, diskursus ini ramai dibicarakan kembali. Banyak hal yang harus diluruskan dalam persepsi masyarakat tentang perempuan terutama anggapan kaum laki-laki lebih utama daripada kaum perempuan.&#8212;- (Oleh: Sekha al-Idrus &#8211; Perempuan dalam Perspektif Agama Samawi)</p>
<p>Dalam sebuah artikel lama dengan judul Wanodya oleh Mohammad Sobary, Tempo, 2 Mei 1992 &#8211; ) menyajikan &#8220;uneg-uneg&#8221;nya yang saya rasa masih cukup mewakili kondisi wanita pada umumnya di Indonesia terutama masyarakat latar belakang budaya Jawa:</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211; Bagaimanakah persisnya gambaran kita tentang wanita? Seperti Shinta yang setia, tabah, dan sabar menahan derita? Seperti Srikandi yang kenes, tangkas, dan cenderung tregal-tregel ning ora mbebayani (agak sembrono tapi tak membahayakan)? Ataukah seperti Sarinah, sebagaimana dimaksudkan Soekarno?</p>
<p>Dunia berputar. Dan di dalamnya, wanita pun berubah. Soekarno salah dalam satu hal: wanita tak lagi dikungkung seperti dulu. Sudah umum sekarang bahwa wanita punya kebebasan seperti pria. Artinya, wanita juga bekerja di berbagai sektor, tempat laki-laki bisa bekerja. Dan, akibatnya, wanita pun tak lagi bergantung sepenuhnya pada pria. Toko dan warung di daerah pedesaan banyak yang berkembang di bawah kendali wanita.</p>
<p>Tak jarang wanita menjadi kepala keluarga. Juga tak jarang terjadi, laki-laki &#8211;yang memegang warisan tradisi sebagai pelindung keluarga itu&#8211; dalam praktek justru dilindungi sang wanita. Dan banyak laki-laki tidak merasa malu.</p>
<p>Tapi secara sosial maupun kultural pengakuan kita atas peran wanita masih kurang. Persepsi kultural kita masih tetap menjadikan wanita &#8220;korban&#8221;. Misalnya, betapapun jelasnya kontribusi ekonomi kaum wanita bagi keluarga, diakui umum bahwa pekerjaan wanita &#8211;seperti disebut dalam penelitian Celia E. Mather mengenai wanita pekerja di Tangerang&#8211; dianggap cuma &#8220;daripada menganggur&#8221;. Kecuali itu, ada anggapan (tentu saja di kalangan pria) yang bersifat gender specific bahwa jenis pekerjaan tertentu tak layak dikerjakan pria, karena ia &#8220;cuma&#8221; pekerjaan wanita.</p>
<p>Diskriminasi atas wanita terjadi di rumah tangga atau di pabrik. Di rumah, seperti dilaporkan Diane Wolf dari penelitiannya tentang wanita pekerja di Jawa Tengah, kontribusi ekonomi wanita dianggap sekunder, cuma melengkapi hasil pria. Di pabrik, kata Mather, mereka dibayar cuma tiga perempat jumlah gaji pria, biarpun sering mereka harus bekerja lebih keras dari lawan jenisnya itu.</p>
<p>Pendek kata, sampai saat ini anggapan tradisional tentang superioritas pria atas wanita belum tertumbangkan. Benar, wanita &#8220;dimahkotai&#8221; aneka sebutan: tiang masyarakat, surga di bawah telapak kaki ibu, atau dilambangkan sebagai bunga, dan diluhurkan sebagai ratu. Gadis paling cantik di desa disebut bunga desa. Dan di kota-kota gadis cantik, gadis luwes, gadis tangkas, dijuluki dengan aneka ratu.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, perlakuan istimewa bagi anak wanita dalam keluarga &#8211;misalnya anak wanita harus dijaga baik-baik&#8211; ternyata diam-diam mengandung &#8220;muatan&#8221; kepentingan seks buat laki-laki. Artinya, kalau ke mana saja anak dijaga, diharapkan tetap &#8220;murni&#8221; dan itu nantinya biar menyenangkan laki-laki (suaminya).</p>
<p>Di dunia wayang, tiap wanita muncul disambut dengan suluk ki dalang: Wanodya ayu tama ngambar arum. Ngambar aruming kusuma&#8230; (wanita cantik memancarkan harum bunga). Bunga apa, tidak penting. Tapi, melihat seorang wanodya (cewek) cuma dari sudut kecantikannya, sungguh bisa bikin merah muka kaum feminis.</p>
<p>Mereka akan lebih marah melihat persepsi kultural Jawa atas wanita: Wanita ateges wani ditata (namanya juga wanita, ia harus rela diatur, taat pada tatanan). Siapa yang bikin tatanan? Mungkin ayah, mungkin suami. Dan kita tahu, ayah dan suami bukan wanita, tapi laki-laki. Jadinya, wanita harus taat, tunduk pada laki-laki.</p>
<p>Mengapa begitu? Soalnya, wanita itu ibarat awan dadi theklek, bengine ganti dadi lemek (siang menjadi bakiak, malamnya naik pangkat menjadi alas untuk ditindih).</p>
<p>Dan siapa membaca Gadis Pantai-nya Pramudya Ananta Toer, akan jelas betapa rendah status wanita di kalangan santri-priayi (Geertz akan pusing melihat kombinasi ini) di masyarakat Jawa. Di kalangan itu, wanita cuma tempat menumpahkan benih. Selebihnya babu atau budak.</p>
<p>Adalah juga orang Jawa yang menempatkan peran wanita dalam formulasi &#8220;3 ah&#8221; sesuai dengan sebutan traditional gender-based ideology: yakni neng omah (di rumah), olah-olah (memasak), dan mlumah, ngablah-ablah (maaf, menelentang seseksi mungkin). Maksudnya, supaya sinuwun sang suami menjadi sangat berkenan di hati. Posisi wanita dalam persepsi Jawa cuma bergerak antara dua kutub: budak dan klangenan (barang, supaya tidak bilang hewan, piaraan).</p>
<p>Dalam ketoprak dan wayang, gambaran itu tidak menyimpang secuil pun. Wanita yang mencoba mendekati pria karena jatuh cinta disebut ngunggah-unggahi atau suwita, artinya mengabdi. Dan, kelak, bila sang pria tak lagi berkenan, wanita rela saja diusir jauh-jauh.</p>
<p>Hubungan kesederajatan antara pria dan wanita, pendeknya, belum pernah ada. Gagasan wanita ateges wani ditata, dan konsep ngunggah-unggahi atau suwita dan ejekan awan dadi theklek, bengi dadi lemek jelas menggambarkan adanya ideologi penindasan pria atas wanita.</p>
<p>Tapi tampaknya, di bawah penindasan itu wanita menemukan juga sejenis kenikmatan. Mungkin karena ada sejenis sifat cenderung &#8220;menyiksa&#8221; diri, mungkin juga karena ketakberdayaan. Atau jangan-jangan wanita-wanita cenderung jadi Shinta?</p>
<p>Mungkin bukan. Barangkali, wanita adalah sebuah piala cantik yang retak: ia terombang-ambing antara hasrat untuk tetap dalam posisi &#8220;tradisional&#8221; di rumah sebagai wanodya ayu tama yang &#8220;mengabdi&#8221; dan kecenderungan untuk menuntut kebebasan. &#8212;&#8212;&#8211; (Wanodya, Mohammad Sobary, Tempo, 2 Mei 1992)</p>
<p>Wis &#8220;sak karepmu&#8221; lah &#8211; Selamat Berjuang &#8220;tak&#8221; support dari belakang.!!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=85&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/29/biarkanlahwanita-berjuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAYANG &#8216;MBELING&#8217;</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/27/wayang-mbeling/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/27/wayang-mbeling/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 04:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Humor]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Gorawangsa Operasi Plastik +Dalang: Ki Harsono Purbawaseso+ Love is never die, Cinta tak akan pernah mati. Itu yang dialami seorang pemuda bernama Gorawangsa. Meski Dewi Maerah telah menjadi istri orang, namun namanya terpatri indah di lubuk hati terdalam Gorawangsa. Dewi Maerah telah menjadi spirit of life, roh serta nafas hidup Gorawangsa, meski kini telah dimiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=83&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:16pt;font-family:'Times New Roman';">Gorawangsa Operasi Plastik </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:16pt;font-family:'Times New Roman';"></span></strong><font color="#993366">+Dalang: Ki Harsono Purbawaseso+</font></p>
<p><strong>Love is never die, </strong>Cinta tak akan pernah mati. Itu yang dialami seorang pemuda bernama Gorawangsa. Meski Dewi Maerah telah menjadi istri orang, namun namanya terpatri indah di lubuk hati terdalam Gorawangsa. Dewi Maerah telah menjadi spirit of life, roh serta nafas hidup Gorawangsa, meski kini telah dimiliki laki-laki lain, namun cintanya tidak pernah berhenti. <span id="more-83"></span><br />
Kasih tak sampai Gorawangsa, hampir-hampir menyesatkan jalan hidupnya. Kuliahnya nyaris DO, tiap malam pekerjaannya nongkrong diskotek, minum- minuman keras sampai lari ke barang haram narkoba.Orang tuanya yang bingung mengirim Gorawangsa ke Antaboga. Center, lernbaga nondepartemen pusat rehabilitasi remaja bermasalah di Mathura yang didirikan oleh ISM, sukarelawan dan aktivis kemanusian yang tidak tertampung di kabinet Basudewa.</p>
<p>Berkat bimbingan yang telaten, keyakinan dan kesadaran Gorawangsa perlahan mulai tumbuh. Ia berhasil merampungkan skripsinya. Berbekal gelar sarjananya dia diterima menjadi CPNS. Meski sudah hidup normal dan menjadi pegawai negeri, cintanya pada Dewi Maerah tidak pernah hilang dari ingatan.</p>
<p>Tapi untuk mengembalikan wanita itu ke pangkuannya, rasanya mustahil. Dewi Maerah telah menjadi milik orang lain. Terlebih yang memiliki adalah bos dari segala bosnya negeri Mathura, Prabu Basudewa yang dilindungi para preman yang terkenal bengis dan supergalak di muka bumi.<br />
Gorawangsa tak ingin grusa-grusu, dirinya tak mungkin melawan barikade tembok kekuasaan yang otoriter. Bisa-bisa dirinya dicincang atau dikurung seumur hidup dengan pasal pidana subversif, makar atau teroris.</p>
<p>Prinsip Gorawangsa, kekuatan tidak harus dilawan keras, kekuatan harus dilawan otak dan akal sehat. Dirinya, tak mungkin senekat Ken Arok atau setragis Pranacitra di negeri ketoprak, Gorawangsa sekarang lebih banyak diam, tirakat, puasa Senin-Kamis, mutih dan ngrowot. Fasilitas dari Mbah Dukun, tidak juga dimanfaatkannya. Gorawangsa ingin Dewi Maerah mencintai dirinya natural, alamiah dan sepenuh hati, bukan hanya 40 hari dengan fasilitas pengasihan, kecubung wulung atau semar mesem, yang bisa terbahaya bagi anak keturunannya kelak.Yang membuat Gorawangsa sedikit terhibur ketika datang surat Dewi Maerah saat valentine day yang lalu, yang benar-benar menyentuh hatinya. Padahal biasanya Dewi Maerah hanya titip salam atau SMS-an saja. Wanita itu merasa tidak bahagia menjadi istri ke tiga Prabu Basudewa.</p>
<p>Dalam suratnya Maerah berkeluh kesah. Secara material memang bergelimang, harta, punya istana, mobil sedan keluaran terbaru serta fasilitas duniawi yang lain. Tetapi kebahagiaan yang diimpikannya hanyalah dalam khayalan belaka, kasih sayang yang diinginkannya tak didapatkan. Kebutuhan ranjang seperti tak pernah tersentuh.</p>
<p>Singkatnya Dewi Maerah butuh PIL yang bisa membunuh kesepiamnya,&#8221;Bayangkan aja Mae Asa (panggilan akrab Gorawangsa) kalau aku minta dikeloni, harus sabar menanti giliran, kayak antre beras. Sudah gitu yang didahulukan istri pertamanya, Dewi Rohini. Terus istri keduanya Dewi Badraini. Aku hanya kebagian intipnya. Satu ronde sudah loyo. Siapa yang nggak gemes sih mas?&#8221; kata Dewi Maerah dalam suratnya dengan nada kesal. Kemudian surat itu masih dilanjutkan yang intinya memuji keperkasaan Gorawangsa.</p>
<p>Kerinduan Gorawangsa pun semakin menjadi. Dirinya benar-benar kasmaran dimabuk cinta berat. Dia seperti orang gila. Foto Dewi Maerah dipasang besar-besar, di baliho, spanduk, stiker, kaos, bendera dan pamflet. Mirip kampanye pemilu. Tentu saja ulah Gorawangsa membuat pihak keamanan gerah, mengganggu ketentraman umum dan yang memberatkan lagi adalah pidana subversif, menghina, kepala negara Mathura karena Dewi Maerah istri sah Prabu Basudewa dilecehkan di muka umum. Satu pasukan khusus Mathura dan para sniper jitu diterjunkan, khusus memburu Gorawangsa hidup atau mati. Tapi mereka tak bisa menemukan wajah Gorawangsa, sekalipun fotonya telah disebar ke seluruh Polsek dan Koramil di seentaro Mathura.</p>
<p>Kini justru Gorawangsa bisa menikmati angin segar kebebasan. Teknologi negeri Mathura yang masih cupet tak akan mungkin rnelacak Gorawangsa. Apa pasal? Gorawangsa ternyata telah operasi plastik, melalui seorang ahli bedah terkenal di negara tetangganya. Lalu beayanya? selain uang sendiri , kekurangannya dibeayai Dewi Maerah.<br />
Siapapun pasti akan pangling, karena telah berubah seratus delapan puluh derajad. Yang mengherankan, Gorawangsa yang hitam kelam kayak arang dan brangasan, kini tampak kalem seperti priyayi. Lebih heran lagi raut mukanya disulap persis dengan wajah Prabu Basudewa.<br />
Skandal cinta Dewi Maerah-Gorawangsa pun mulus. Mereka bisa pacaran sepuasnya, sampai ngapal sekalipun karena tak akan ada yang menyangka jika ada Gorawangsa, wayang tiruan alias wayang imitasinya Basudewa.</p>
<p>Baru setelah Dewi Maerah telat menstruasi dan hasil medicalnya di Poliklinik Mathura dinyatakan positif hamil, Prabu Basudewa tampak tak percaya. Karena dirinya memang jarang meniduri Maerah.</p>
<p>&#8220;Apa mungkin kondom yang saya pakai bocor ya?&#8221; tanya Basudewa kepada dokter pribadinya.</p>
<p>Gorawangsa yang mendengar Basudewa tampak bloon hanya terkekeh. Dan berharap Basudewa tidak mengakui bayi yang dikandung Dewi Maerah, serta mengusirnya, kemudian Gorawangsa bebas menikahi wanita pujaannya itu. (25)<br />
<font color="#993366">(Sumber:</font><a href="http://www.suaramerdeka.com/cybernews/kejawen/wayangmbeling/wayangmbeling-kejawen03.html"><font color="#993366">http://www.suaramerdeka.com/cybernews/kejawen/wayangmbeling/wayangmbeling-kejawen03.html</font></a><font color="#993366">)</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=83&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/27/wayang-mbeling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berani Malu, seperti DIA&#8230;?</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/berani-malu-seperti-dia/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/berani-malu-seperti-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 15:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>
		<category><![CDATA[Uneg-Uneg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya membuka-buka dan membaca kembali klippingan lama artikel Parodi yang di tulis oleh Samuel Mulia seorang penulis mode dan gaya hidup di harian Kompas Minggu, 23 Juli 2006 di-halaman 19, yang ketika itu sedang rame-ramenya semua surat kabar memberikan kritikan tajam kepada Nadine yang putri Indonesia karena “amburradulnya” bahasa inggrisnya. Dari sana saya jadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=82&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:'Times New Roman';"><font size="3">Kemarin saya membuka-buka dan membaca kembali klippingan lama artikel Parodi yang di tulis oleh Samuel Mulia seorang penulis mode dan gaya hidup di harian Kompas Minggu, 23 Juli 2006 di-halaman 19, yang ketika itu sedang rame-ramenya semua surat kabar memberikan kritikan tajam kepada Nadine yang putri Indonesia karena “amburradulnya” bahasa inggrisnya. <span id="more-82"></span>Dari sana saya jadi kembali teringat postingan saya sebelumnya tentang kenekatan dan keberanian si Mardjono membawa </font><a href="http://dhitos.wordpress.com/2006/08/25/setandan-pisang-pengganti-bunga-buat-calon-pacar"><font size="3" color="#800080">“setandan Pisang demi untuk calon sang pacar</font></a><font size="3"><span style="color:blue;">”</span>.(bisa dibaca kembali). Dan rasanya saya jadi menyesal, malu sendiri dan  juga berterima kasih bahwa saya jadi memahami betapa sebenarnya saya tidak seberani itu kalau dibandingkan dengan kenekadan si Mardjono, walaupun umpamanya saya sudah membawa bunga ataupun sekotak coklat “Silver Queen” belum tentu saya seberani Mardjono datang ke calon pacar yang sudah terang-terangan tidak “respect” dengan kita. </font></span><span style="font-family:'Times New Roman';"><font size="3">Bagi yang tidak berlangganan Kompas ataupun yang belum sempat membacanya saya kutipkan “Kilas Parodi dari pak Samuel Mulia” yang bagus sekali yang tentu saja sudah saya edit supaya lebih enak dibaca tanpa mengurangi maknanya untuk kita renungi:</font></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';"></span><font size="2"><font face="Arial"><em><b>Sebelum Menghina dan Mengkritik Coba kita Renungi ini:</b></em></font></font></p>
<p><font size="2"><font face="Arial"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font size="2"><em><font face="Arial">Kadang-kadang kita perlu sekali bertanya pada diri Kita, apakah kita ini cantik, ganteng, pintar, kaya, bisa ini, bisa itu. Kalau kita tahu bahwa satu saja tak terpenuhi, ‘mbok’ sebaiknya mulut kita  dibungkam saja.</font></em><span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></font></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font size="2"><em><font face="Arial">Kadang-kadang juga kita perlu melihat ‘halaman rumah’ kita sendiri. Apakah halamannya kotor atau bersih, terpelihara atau tidak, sebelum kemudian kita tidak tahan ingin memberi komentar atas ‘halaman rumah’ orang lain.</font></em><span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">3</font></span></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font size="2"><em><font face="Arial">Menghapuskan perasaan iri yang menguasahi hati kita adalah sangat diperlukan. Untuk menyampaikan Kritik atau komentar adalah seyogyanya bisa disampaikan, tetapi dengan hati yang bersih tanpa ada udang dibalik batu. Dan kalau menyampaikan kritik adalah lebih baik kalau tidak disertai ‘emosi’, biasa saja seperti kalau kita sedang mengobrol. Kalau tak bisa, coba kita membayangkan kalau kita sedang dikritik dengan suara tinggi.  Mau tidak? Tidak, bukan?</font></em><span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></font></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">4.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font size="2"><em><font face="Arial">Mungkin kita perlu memilih cara mengungkapkan kritik atau hinaan dengan cara lebih halus dan tidak menyinggung perasaan. Misalnya: “Wah.. pas banget pakai kemeja merah muda. Kulit anda kelihatan cemerlang dan Anda kelihatan guanteng dibandingkan kemeja putih” daripada mengatakan “ elo, jelek banget mas pakai kemeja putih. Ganti deh sama yang ping jadi kulit mas yang bluek itu jadi lebih cemerlang” Kata teman saya “enggak enak kalau enggak ada suara tingginya. Jadi enggak kerasa gereget kritiknya . Ntar malah curhat lagi…”</font></em><span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></font></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">5.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font size="2"><em><font face="Arial">Kalau dipikir apa sih untungnya buat kita setelah umpamanya kita melakukan penghinaan? Tapi ada saja seorang teman yang berkomentar seperti ini, “Enggak ada untungnya sih buat gue, Cuma rasanya puaaaasss gitu loh!” Ia kemudian  melanjutkan lagi, “Berarti ada untungnya buat gue ya bo. Akika puas tuh”. Akika itu artinya saya.</font></em><span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></font></p>
<p><font size="2"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><span><font size="2">6.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font size="2"><font face="Arial"><em>Coba kita pikir betapa untungnya ada orang ‘gebleg’ disekitar hidup kita, jadi yang pintar bisa tak punya saingan. Tapi ada lagi kata seorang teman yang tadi. “paling enggak, ada yang bisa buat dihina ya, bo.” Bayangkan saja kalau semua orang pintar, apa jadinya dunia ini.? Maka seperti cerita Pandawa dan Kurawa saya selalu berpikir kalau jadi salah satu anggota pandawa, saya akan berterima kasih kepada kurawa. Karena kejahatan  mereka begitu dahsyatnya. Bayangkan, kalau Kurawa baik banget seperti pandawa, apalah hebatnya kebaikan Pandawa?</em></font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Arial"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font></font><span style="font-family:'Times New Roman';"><font size="3">Ditulisannya yang lain <strong><i>“Mbak Nadine ‘I Lap You’”,</i></strong> yang menjadikan saya juga ikut malu sendiri, karena saya termasuk orang yang sempat berfikir tentang keamburadulnya bahasa inggrisnya Nadine. Berikut sebagian kutipan tulisannya.</font></span><span style="font-family:'Times New Roman';"><font size="3"> </font></span></p>
<p><span style="font-family:'Times New Roman';"><font size="3"><em><font size="2"><em><font face="Arial">“…. Setahun lalu, sebuah setasiun televisi nasional ingin mewancarai saya seputar dunia mode dalam bahasa inggris. Waduh, saya gelagapan, malu mengaku tak bisa bahasa dewa itu. Karena malu, dan saya belajar dari pepatah yang mengatakan banyak jalan menuju Roma, saya dengan pikiran secepat titipan kilat mengatakan waktunya kurang tepat karena saya mau keluar kota. Itulah hebatnya saya. Tidak berani mengaku kekurangan, tapi berani menutup kekurangan. Jadi saya tetap kelihatan bagus tanpa harus ketahuan bagian tak bagusnya.</font></em></font></em></font></span><font size="3"><em><font size="2"> <span style="font-family:'Times New Roman';"></span><font size="2"><font face="Arial"><em><font size="2"><em><font face="Arial">Maka ketika semua orang menertawai Mbak Nadine, saya malah berterima kasih kepadanya dan jadi malu sendiri. Perbedaan saya dengannya adalah saya seorang pengecut. Tak berani seperti dirinya yang dengan bahasa inggris amburadulnya bisa mewakili Indonesia di ajang internasional. Ia mampu menjadi dirinya sendiri meski banyak yang menertawainya.<span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font></em></font><font size="2"><font face="Arial"><em>Saya ?  Saya Cuma berani dibawah selimut “enakan di bawah selimut lagi” celetuk teman saya. </em><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font></font><font size="2"><font face="Arial"><em><font size="2"><em><font face="Arial">Karena saya diselimuti, saya tak berani mempertontonkan isi kepala saya yang sesungguhnya. Saya malu ditertawai. Mbak Nadine berani. Berani ditertawai maksudnya….”</font></em></font></em></font></font></em></font></font></font></em></font></p>
<p><font size="3"><em><font size="2"><font size="2"><font face="Arial"><em><font size="2"><font face="Arial"><font size="2"><font face="Arial"><span style="font-family:'Times New Roman';"></span></font></font><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">Nah, sampai disini setidak-tidaknya <b>saya  berani</b>, mem-posting tulisan orang (pak Samuel Mulia) tanpa bilang-bilang yang punya, tapi ya hanya ini.  Hmmm…! (posted by dhitos @2008)</span></font></font></em></font></font></font></em></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=82&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/berani-malu-seperti-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAKUT JADI TUKANG BAKSO</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/takut-jadi-tukang-bakso/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/takut-jadi-tukang-bakso/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 15:04:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Room]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi Klipping simpenan dari Cak Nun, sebuah renungan untuk intropeksi diri   Sebuah  pengajian  yang  amat  khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam  itu,  mendadak  terganggu  oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan  piring  dengan  sendoknya.  Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf,  tapi  bunyi  ting-ting-ting-ting  yang  berulang-ulang  itu sungguh mengganggu  konsentrasi  anak-anak  muda  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=80&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<blockquote><p><i><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Satu lagi Klipping simpenan dari Cak Nun, sebuah renungan untuk intropeksi diri </span></i><font size="2" face="Arial"> </font></p></blockquote>
</blockquote>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sebuah  pengajian  yang  amat  khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam  itu,  mendadak  terganggu  oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan  piring  dengan  sendoknya.  Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf,  tapi  bunyi  ting-ting-ting-ting  yang  berulang-ulang  itu sungguh mengganggu  konsentrasi  anak-anak  muda  calon  ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.</span><span id="more-80"></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sebuah  pengajian  yang  amat  khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam  Apakah  ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso !&#8221; gerutu seseorang. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><br />
“Bukan  sekali  dua  kali  ini  dia  mengacau !” tambah lain-nya, dan disambung – “Ya, ya, betul !”<span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><br />
“Jangan marah, ikhwan….,” seseorang berusaha meredakan kegelisahan, “ia sekadar mencari makan …..” </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><br />
“Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia minan-nashara !” sebuah suara keras. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><br />
</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tapi  sebelum  takmir  masjid  bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustad juga mengeras: </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">“Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai  khauf  ilallah  selama  ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam   hidupnya. Allah  itu  Mahabesar,  maka  barangsiapa  takut hanya kepada-Nya, yang lain-lain menjadi kecil adanya…”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><br />
</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tak  usah  menghitung  dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau  peluru militerisme  politik.  Cobalah  berhitung  dulu dengan tukang bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat,  beranikah Anda menjadi tukang bakso ? Anda tidak takut menjadi sarjana,  memperoleh  pekerjaan dengan  gaji  besar, memasuki rumah tangga dengan  rumah  dan  mobil  yang bergengsi: <span> </span>tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi  tukang bakso ? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan  lain  dalam  hidup  ini  kecuali  menjadi tukang  bakso  ?</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><span></span><br />
</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Ingatlah  bahwa  tak  seorang  tukang  bakso pun pernah takut menjadi tukang  bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang  bakso ? Karena  pasti  para  tukang  bakso  memiliki  keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Suasana  menjadi  senyap.  Suara  ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian. </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">“Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,”  Pak  Ustadz  melanjutkan,  </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">“karena  kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajad rendah, takut tak  memperoleh  pekerjaan  di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan,  takut  tak  bisa  menghibur  istri  dan  mertua,  dan kelak takut dipecat,  takut  tak  naik  pangkat  .  .  . masyaallah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah !..”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">(sumber : Emha Ainun Najib)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=80&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/takut-jadi-tukang-bakso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Wanita Cantik Istri ARJUNA</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/lima-wanita-cantik-istri-arjuna/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/lima-wanita-cantik-istri-arjuna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 17:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/lima-wanita-cantik-istri-arjuna/</guid>
		<description><![CDATA[Karya sastra Jawa klasik, Serat Candrarini berbentuk puisi tembang macapat berbahasa Jawa baru. Ditulis pada hari kamis, 7 Jumadilakir tahun be 1792 Jawa oleh Raden Mas Ranggawarsita, atas perintah Paku Buwana IX di Surakarta. Tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah para istri Arjuna, yakni : 1. Sumbadra 2. Dewi Ulupi 3. Ratna Gandawati 4. Dewi Manohara dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=79&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Karya sastra Jawa klasik, Serat Candrarini berbentuk puisi tembang macapat berbahasa Jawa baru. Ditulis pada hari kamis, 7 Jumadilakir tahun be 1792 Jawa oleh Raden Mas Ranggawarsita, atas perintah Paku Buwana IX di Surakarta. Tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah para istri Arjuna, yakni : <b>1. Sumbadra 2. Dewi Ulupi 3. Ratna Gandawati 4. Dewi Manohara dan 5. Srikandi.</b> Tokoh yang ditampilkan berperangi positif, sebab para istri arjuna tersebut mempunyai karakter yang berlainan. Dilihat dari segi isinya merupakan ajaran yang ditujukan kepada kaum wanita, khususnya wanita jaman dulu yang mengabdikan hidup pada perkawinan poligami.</font></span><span id="more-79"></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Didalamnya termuat contoh-contoh sifat dan tingkah laku yang dimiliki oleh kelima orang wanita ( istri ) Arjuna. Dari kelima istri Arjuna itu, yang tiga orang merupakan anak seorang raja, yang berarti mempunyai pengaruh positif kepada pemerintahan dan kehidupan duniawi. Yang dua orang istri lainnya merupakan anak pendeta atau biksu yang berarti memiliki karakter dan pribadi yang luhur. Selain memiliki karakter yang berbeda, kelima istri tersebut selalu menghargai kepada temen-temen selir, dan menganggapnya sebagai saudara sendiri yang saling hidup berdampingan dengan rukun dan damai sebagai wanita yang dikatakan berhasil dalam perkawinan, mereka memiliki sifat <b>sabar “ rela “ dan narima “</b> menerima dengan bersyukur.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Disebutkan pula bahwa sebagai wanita apabila dalam perkawinannya mengalami kegagalan maka rasa kewanitaannya tersebut telah hilang. Seorang istri yang dapat disebut berhasil dalam perkawinan adalah seorang wanita yang pasrah terhadap apa saja yang akan terjadi pada dirinya. Walaupun dimadu seorang istri hendaknya dapat memelihara dirinya agar tetap cantik, bertingkah laku manis, penuh pengabdian, berbakti, setia, dan taat kepada suaminya.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Diantara sesama selir harus saling bersahabat dan menganggapnya sebagai saudara, oleh karena itu meraka harus saling memberi dan saling mendidik. Selain memiliki sifat-sifat diatas, untuk menjadi wanita yang berbudi luhur haruslah beriman. Janganlah sampai putus dalam berdoa agar mendapatkan wahyu dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mencapi kesempurnaan hidup, sebagai mahkluk individu dan sosial seseorang diwajibkan untuk berguru agar mendapatkan pengetahuan didalam kehidupan, baik secara makro maupun mikro. </font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Sebagai penyampai pesannya adalah dewi Manohara, sebagai seorang wanita Jawa yang rela berkorban demi suami yang amat dicintainya, wara Sembadra membuktikan dirinya. Sebagai bukti akan kesetiannya, ia menolak keinginan Burisrawayang ingin memperistri dirinya dengan cara menculik, wara Sembadra memilih bunuh diri dan akhirnya mati daripada harus melayani laki-laki yang bukan suaminya. </font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Dilukiskan pula mengenai tingkah laku wara Srikandhi yang berbakti terhadap mertua, yaitu dewi Kunthi. Ia mampu dan berusaha memenuhi apa saja yang menjadi keinginan mertuanya. Sebagai seorang menantu ternyata ia sangat setia, selalu berbuat yang baik demi keutuhan keluarga, ia tidak hanya menerima suaminya saja sebagai pendamping akan tetapi menerima keluarga yang lain sebagai satu ikatan keluarga. Selain berbakti kepada mertua, sebagai istri ia juga harus tetap cinta kepada saudara-saudaranya sendiri, walaupun di antara mereka saling berjauhan tempat. Selain itu digambarkan juga keindahan dan kecantikan terhadap setiap tokoh misalnya : </font></span>  </p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><font size="2"><b><span style="font-family:Georgia;">Wara Sembadra</span></b><span style="font-family:Georgia;"> digambarkan sebagai seorang wanita yang mempunyai kesamaan dengan bidadari. </span></font></li>
<li class="MsoNormal"><font size="2"><b><span style="font-family:Georgia;">Dewi Manohara</span></b><span style="font-family:Georgia;"> digambarkan tentang kelebihan kecantikannya bagaikan lukisan yang indah. Wajahnya bagai bunga pandan, ibarat matahari yang tertutup tipisnya awan. Bentuk lambung yang kecil rapi dan ramping bagaikan kumbang besar yang mengitari bunga. Bibirnya yang kecil, merah, bagus bagaikan buah manggis yang merekah. </span></font></li>
<li class="MsoNormal"><font size="2"><b><span style="font-family:Georgia;">Dewi Ulupi</span></b><span style="font-family:Georgia;"> liriknya digambarkan bagai teratai biru yang bersinar.</span></font></li>
<li class="MsoNormal"><font size="2"><b><span style="font-family:Georgia;">Ratna Gandawati</span></b><span style="font-family:Georgia;"> digambarkan berambut hitam, sinom “ anak rambut “ banyak, berleher indah, berdada lebar kuning bagaikan kelapa gading yang masih muda, bila ia berjalan amat pelan bagaikan teratai yang melenggang di air.</span></font></li>
<li class="MsoNormal"><font size="2"><b><span style="font-family:Georgia;">Wara Srikandhi</span></b><span style="font-family:Georgia;"> digambarkan ibarat wanita dari bulan, suara menggema bagaikan suara kilat yang diatur dan berbunyi bersama-sama, kulitnya kuning bagaikan kencana yang digosok.</span></font></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Georgia;"><font size="2">Ya..begitulah !! </font></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(sumber: </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><a href="http://www.jawapalace.org/candrarini.html"><span style="color:windowtext;">http://www.jawapalace.org/candrarini.html</span></a>)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=79&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/lima-wanita-cantik-istri-arjuna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GENGSI</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/gengsi/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/gengsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 17:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>
		<category><![CDATA[Pojok Sobary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/gengsi/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan berikut dibawah ini ditulis 16 tahun lalu oleh Pak M Sobary (Budayawan yang konon dianggap setengah Sufi), tapi masih enak untuk dibaca ulang sebagai renungan karena masih cukup mewakili kondisi masyarakat kita yang memang pantas kita renungkan dan kita sikapi. + dhitos+.  Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, seringkali  dalam  hidup ini  kita mati-matian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=78&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Comic Sans MS';">Tulisan berikut dibawah ini ditulis 16 tahun lalu oleh Pak M Sobary (Budayawan yang konon dianggap setengah Sufi), tapi masih enak untuk dibaca ulang sebagai renungan karena masih cukup mewakili kondisi masyarakat kita yang memang pantas kita renungkan dan kita sikapi. +</span></em><strong><i><span style="font-size:11pt;font-family:'Comic Sans MS';"> dhitos+.</span></i></strong><font face="Times New Roman"> </font></p></blockquote>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, seringkali  dalam  hidup ini  kita mati-matian memburunya. Demi gengsi orang bersedia melakukan apa saja, berapa pun besar ongkos  dan  risikonya. Banyak  tindakan  melawan  hukum,  tata  susila  dan  moral, dilakukan demi mengejar gengsi.</font><span id="more-78"></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Lain orang lain pula simbol-simbol yang dipandang bergengsi. Unsur  etnis,  kesukuan,  agama,  tingkat  pendidikan, jenis pekerjaan, jenis kelamin dan tingkat usia seseorang,  sering mewarnai perbedaan-perbedaan tadi.<span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Unsur  lokal  (di  daerah  mana atau kompleks apa) seseorang tinggal, juga mempengaruhi corak perbedaan gengsi  tadi.  </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Di kompleks perumahan sederhana, orang masih bisa bangga betapa ia baru pulang dari Blok M membeli mesin  cuci  atau  video.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Pekerjaan &#8220;mulia&#8221; itu biasanya diemban oleh, maaf agak terus terang, kaum ibu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Di kalangan sarjana, lain lagi ulah orang untuk  menunjukkan gengsi  ini.  Pernah  seorang  doktor dari Indonesia memberi ceramah di Universitas Monash, Australia, di depan mahasiswa Indonesia. Dalam sepuluh dari tiga puluh menit ceramahnya ia sibuk bicara tentang dirinya, termasuk bahwa ia  murid  Ivan Illich dan Rostow yang beken itu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Arti  simbolik  dari  &#8220;pidato&#8221;-nya  itu  pun merupakan usaha menunjukkan gengsi  untuk  menimbulkan  efek  &#8220;wah&#8221;.  Memang banyak  orang  terkesima  mendengar murid Rostow itu bicara. Namun ada juga yang tampak gelisah.  Saya  malah  mengantuk.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Ketika  ceramah  selesai,  orang  pun  menggerutu.  Katanya, ceramahnya tidak  bermutu.  </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Saya  tidak  setuju.  Mana  bisa doktor tidak bermutu?<span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">&#8220;Kamu tidur kok bisa tidak setuju,&#8221; gerutu salah seorang.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Maksud saya, mutu sudah terang ada, cuma tak setinggi langit harapan kita. Memang salah para  pendengar.  Mereka  terlalu banyak  berharap.  Orang  sering  keliru, dikiranya kualitas luar negeri (dan murid sarjana kenamaan) mesti hebat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Sebenarnya, kita musti sepaham dulu  dalam  dua  hal:  bahwa kebesaran  guru  belum  tentu  merembes  ke murid, dan bahwa doktor haruslah pertama-tama dilihat, apa boleh  buat,  Cuma sebagai  lambang  selesainya  sebuah  proses  administratif. Artinya, tak usah dulu bicara tentang kemampuan akademisnya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Namun, apa yang terjadi di sekitar kita  memang  lain.  Kita terlanjur  menilai,  doktor  itu sebuah gengsi akademis yang tinggi. Sikap seorang doktor dengan orang awam  pun  jadinya ada   keserupaan.  Mereka,  pada  dasarnya,  kelewat  bangga terhadap gengsi. Kenyataan tidak  seimbangnya  gelar  dengan kemampuan  akademis,  atau,  tak  seimbangnya  gengsi dengan esensinya sebagai seorang doktor, merupakan soal lain.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Kita lihat saja, misalnya, betapa  gigih  mahasiswa  sekadar mengejar  lulus  demi  gelar.  Jadi  demi  gengsi. Dan bukan memburu esensi. Sudah barang tentu sikap mereka salah.  Tapi kurang  adil  kita  menimpakan  kesalahan  hanya  pada  para pemburu  gengsi  itu.  Soalnya,  mungkin  kita  semua  punya kontribusi  terhadap  terbentuknya sikap dan orientasi hidup seperti itu. Mungkin kita semua sudah gila gengsi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Membanggakan mantan guru,  almamater,  jabatan,  orang  tua, atau  gelar  akademis,  diam-diam lalu menjadi lumrah. Tidak punya kemandirian dianggap biasa. Jarang jadinya orang  yang berani  bersikap  lugas, apa adanya. Kalau toh ada juga, itu sebuah kekecualian. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Beberapa bulan lalu, saya  berkenalan  dengan  seorang  yang rambutnya mulai memutih. Saya sulit menduga sebagai apa dia. Dia hanya mengaku bekerja di sebuah  departemen,  yang  saya tahu pusat penelitiannya baik. Tapi ketika saya tanya apakah dia  peneliti,  dengan  datar  dia  menjawab:   &#8220;Saya cuma birokrat.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">&#8220;<span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Tak  ada  kesan  apa-apa  di  wajahnya.  Di masyarakat kita, birokrat  sering  dipandang  remeh.  Setidak-tidaknya  gelar birokrat  tampak  tak seluhur cendekiawan, dramawan, penyair atau ahli ini ahli itu. Citra birokrat terlanjur negatif. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Pengakuan &#8220;saya cuma birokrat&#8221; itu lalu  terasa  mengesankan kegetiran.  Tapi  mungkin  juga  keberanian.  Penasaran saya jadinya. Dari orang  lain  akhirnya  saya  tahu,  dia  bukan sembarang  orang.  Dia  seorang  Dirjen.  Kabarnya,  Menteri pernah menawarinya rumah di Menteng. Tapi dia menolak. Lebih suka dia tinggal di rumah sederhana yang dibelinya sendiri.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Sebagai birokrat, rumus kerjanya cuma dua: &#8220;Bikin tiap orang yang  keluar  dari  kamarmu   tersenyum   bahagia.   Jadikan jabatanmu sarana ngibadah (beribadah)&#8221;.<span style="font-family:Arial;"></span></font><font face="Times New Roman">Saya kagum. Saleh orang ini. Tak banyak di negeri kita orang yang  bicara  tentang  jabatan  sebagai   sarana   ngibadah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Arial;"></span></font><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Umumnya,  jabatan  dijadikan wahana mewujudkan impian-impian dan sarana menjunjung tinggi (secara  sosial,  ekonomi,  dan politis) gengsi keluarga, anak cucu dan para cicit.<strong>(Mohammad Sobary, Suara Pembaruan, 18 Januari 1992)</strong></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=78&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/gengsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERAN-PERAN KEHIDUPAN</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/peran-peran-kehidupan/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/peran-peran-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 13:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Uneg-Uneg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/peran-peran-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang-kadang kita sering melupakan atau tidak pernah terfikirkan bahwa untuk menuju hari esok yang lebih baik kita perlu meningkatkan kualitas hidup kita, baik itu duniawi ataupun surgawi, tapi yang terjadi kita sering terjebak mengalami kebingungan dan kalimat yang tak sempat terucapkan bisa saja muncul “saya sebenarnya mau ‘ngapain”.  Barangkali “sharing” postingan tulisan saya yang ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=77&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote></blockquote>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kadang-kadang kita sering melupakan atau tidak pernah terfikirkan bahwa untuk menuju hari esok yang lebih baik kita perlu meningkatkan kualitas hidup kita, baik itu duniawi ataupun surgawi, tapi yang terjadi kita sering terjebak mengalami kebingungan dan kalimat yang tak sempat terucapkan bisa saja muncul <i>“saya sebenarnya mau ‘ngapain”</i>.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span><span id="more-77"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Barangkali <i>“sharing”</i> postingan tulisan saya yang ini, ada manfaatnya kalau kita mau menyadari peran-peran kita dalam kehidupan.  </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ketika saya menulis ini,  tanpa saya sadari ternyata saya sudah berperan sebagai seorang penulis. Nah didalam kesehari-harian dari bangun pagi sampai tidur lagi, ternyata saya juga sebenarnya memiliki peran-peran yang sedemikian banyaknya, sebanyak apa yang menjadi aktivitas saya dalam menjalani kehidupan itu sendiri. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sebagai contoh suatu ketika saya sedang online, adik saya datang bertamu, bersamaan itu istri saya berteriak minta tolong untuk ikut memarahi anak saya yang habis berantem di sekolah. Dan tidak lama kemudian  juga handphone berdering dari salah satu kawan saya anggap saja si A bertanya tentang mesin mobilnya yang mogok.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dalam sesaat ternyata saya telah memerankan 4(empat) peran sekaligus, sebagai blogger, seorang kakak, orang tua, juga sebagai teman sekaligus sebagai orang yang berpengetahuan montir mobil. Itu belum lagi peran-peran yang lain yang tidak bisa dituliskan ’saking’ banyaknya bahkan mungkin ratusan atau ribuan. Barangkali, masih ada yang ingat tentang peran-peran kehidupan dari sebuah lagu tempo dulu yang diciptakan oleh Godbless <i>”Dunia ini panggung Sandiwara”</i> yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kemudian saya mencoba menguji dari sekian banyak peran yang paling dominan dalam kehidupan saya dan yang menurut saya, sangat saya kuasai dan professional. Dan saya telah mencoba untuk merenunginya dengan jujur. Sudahkan itu merupakan satu bagian peran saya yang <strong>paling sempurna ?</strong>   </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><b><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ternyata sama sekali tidak!</span></b><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">. Dan tidak ada satu peranpun yang sudah kita anggap paling baik itu adalah hal paling sempurna. Betapa sebenarnya kita sebagai umat manusia punya banyak sekali kelemahan dan kekurangan yang harus disadari yang kemudian diperbaiki.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dengan menyadari kekurangan dari diri kita, sebenarnya kita sudah memiliki modal yang dapat dipakai  untuk menentukan arah kebingungan kita, sehingga kita memiliki tujuan yang jelas didalam meningkatkan kualitas hidup  yaitu dengan intropeksi diri, serta ada usaha untuk memperbaikinya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Adalah suatu yang sangat tidak mungkin, bahwa semua peran itu dapat kita perbaiki. Kita harus memiliki prioritas yang sesuai dengan lingkungan kehidupan kita.  Teori menentukan prioritas sudah dibahas dengan bagus sekali di buku 7 (seven) Habit nya Steven Covey (sekarang sudah jadi 8 Habits), yang tentu saja teori ini tidak akan saya bahas disini.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Saya hanya menekankan berdasarkan pengalaman; bagaimanapun kebiasaan <b>intropeksi diri</b> itu dapat membuahkan proses pembelajaran yang banyak sekali dan dapat menentukan arah <b>”saya mau kemana”</b>. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sebagai contoh dari ketika saya berperan sebagai bagian dari sebuah komunitas blogger. Ternyata saya banyak sekali dapat ilmu, setidak-tidaknya saya sudah belajar dan menjadi mengerti tata cara komunikasi dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal hanya dari kalimat2 yang terbaca, bagaimana saya harus juga berkomunikasi dengan hanya menuliskan apa-apa yang ada dibenak agar dimengerti tanpa menyinggung pembacanya malah kalau perlu kita dapat mengambil segi positip untuk peningkat kualitas diri. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Umpanyanya lagi,  saya sedang menyapa rekan2 blogger yang saya kenal didunia maya, membaca tulisannya, memberi komentar, merespon komentar dlsb disana banyak pelajaran pengetahuan berharga yang dapat memicu kelemahan2 kita untuk menjadi lebih baik lagi. Atau boleh dikatakan dengan kemauan memahami kelemahan-kelemahan yang kita miliki, akan menjadikan kita <span> </span>murid yang baik.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Belum lagi contoh dari peran-peran yang lain. Jadi banyak sekali dari setiap jengkal langkah kita yang membuat kita jadi belajar untuk meningkatkan kualitas diri, asal ada kemauan untuk memperbaiki setiap kelemahan kita. Dan tidak ada lagi istilah kebingungan dan melamun tanpa perbaikan kualitas hidup.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Saya kutip kalimat ‘quote’ (tanpa nama):</span></span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">“However many holy words you read, however many you speak, what good will they do you if you do not act on upon them?&#8221;</span></i></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dan kemudian seperti disingkat oleh kalimatnya Gus Dur:</span></span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">“Memang mudah mengatakan dengan kata-kata tapi sulit dilaksanakan bukan?”</span></i></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Mungkin kalimat tersebut menjadi sangat mudah <i>kalau kita harus memulainya dari diri kita sendiri</i>. (begitu kata Aa Gym)</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dan, dari kesimpulan tulisan saya diatas: </span></span></p>
<blockquote><p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">”Sesungguhnya setiap orang sudah melakukan intropeksi diri pada salah satu peran kehidupannya, hanya tinggal menambah jumlahnya”</span></i><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Semoga ada manfaatnya. (dhitos@2008)</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=77&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/peran-peran-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APAKAH SAYA SUDAH SABAR…?</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/apakah-saya-sudah-sabar%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/apakah-saya-sudah-sabar%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 19:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Uneg-Uneg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/apakah-saya-sudah-sabar%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya sangat ingin marah, dan saya mencoba sabar dengan mengendalikannya untuk tidak marah, kendatipun rasa &#8220;nggrudel&#8221; marah itu masih ada. apakah saya sudah merasa sabar? ternyata tidak!   Ketika saya merasa sudah sabar, saya sebenarnya hanya menahan diri untuk tidak emosi, belum sesungguhnya menjadi orang yang sabar.   Karena itulah, sekarang ini saya sedang mencoba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=76&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<blockquote><p><font face="Arial"><em><span style="font-size:12pt;">Suatu ketika saya sangat ingin marah, dan saya mencoba sabar dengan mengendalikannya untuk tidak marah, kendatipun rasa &#8220;nggrudel&#8221; marah itu masih ada. apakah saya sudah merasa sabar? ternyata tidak! </span></em><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></font><em><span style="font-size:12pt;"><font face="Arial"> </font></span></em></p>
<p><em><span style="font-size:12pt;"></span></em><em><span style="font-size:12pt;"><font face="Arial">Ketika saya merasa sudah sabar, saya sebenarnya hanya menahan diri untuk tidak emosi, belum sesungguhnya menjadi orang yang sabar. </font></span></em><em><span style="font-size:12pt;"><font face="Arial"> </font></span></em></p>
<p><em><span style="font-size:12pt;"></span></em><font face="Arial"><em><span style="font-size:12pt;">Karena itulah, sekarang ini saya sedang mencoba belajar untuk untuk menjadi orang yang sabar tanpa harus merasa bersabar.</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></font><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p></blockquote>
</blockquote>
<p><span id="more-76"></span><br />
<span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Mencoba yang demikian itu ternyata tidak mudah, dan diperlukan sebuah proses pelatihan yang panjang. Menjadi sabar tanpa harus merasa bersabar hanya bisa terjadi kalau <b>“sabar”</b> itu sudah menjadi sifat. Sedangkan sifat seseorang itu akan dapat berubah kalau melalui proses pelatihan yang selalu berulang berkali-kali.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sabar</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> sangat erat kaitannya dengan <b>ikhlas.</b>  Ikhlas itu dapat diibaratkan seperti sebuah pengorbanan mencintai para putra-putri anda. Baik ataupun buruk, anda akan tetap mencintai tanpa merasa terbebani. Atau seperti ketika anda tanpa merasa terbebani memberikan uang 500 perak kepada pengamen jalanan. Tapi ikhlaskah kalau memberi 1000 perak? Mungkin ikhlas tapi dengan terpaksa karena adanya uang kecil hanya uang 1000 perak. Dan juga sanggupkah kalau mencintai para anak yatim yang bukan anak anda, seperti anda mencintai putra-putri sendiri. Untuk itulah kita masih harus belajar mengaji agama dan filosofi spiritual.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Kembali kepada <b>”sabar yang sebenarnya”</b>,  untuk dapat mencapai sifat yang demikian kita sudah harus memulainya dengan belajar mencapainya. Hal ini sebenarnya bisa dimulai dengan menyikapi dan memahami setiap kondisi baik dan buruk yang membebani perasaan kita, seperti halnya dengan memahami tentang sifat baik dan buruknya putra-putri anda. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Mengapa kita bisa dengan mudah dan tanpa beban memahami baik buruknya putra-putri kita sendiri. Jawabannya adalah karena kita tahu persis setiap sebab dan akibatnya serta latar belakang mengenai baik dan buruknya dan yang jelas adalah <b>keikhlasan</b> kita untuk rela berkorban.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Harus kita akui dengan jujur, bahwa kesabaran adalah hal yang paling sulit ditegakkan dan kalau kita tidak dapat bersabar dalam arti sesungguhnya, bagaimana kita akan ikhlas mau berkorban atau memberi maaf atas kesalahan orang kepada kita?</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Dengan meminjam istilahnya Gus Dur “ memang mudah mengatakan dalam bentuk kata-kata, tapi sulit dilaksanakan, bukan?”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Ya.. .. begitulah…! (dhitos @2008)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=76&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/24/apakah-saya-sudah-sabar%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;WANITA-WANITA CANTIK&#8221;</title>
		<link>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/23/wanita-wanita-cantik/</link>
		<comments>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/23/wanita-wanita-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 16:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhitos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dhitos' post]]></category>
		<category><![CDATA[Klipping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhitos.wordpress.com/2008/01/23/wanita-wanita-cantik/</guid>
		<description><![CDATA[KOLEKSI MUSEUM MPU TANTULAR Wanita adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT, diantara berjuta-juta bukti yang lainnya. Bagaimana tidak, makhluk indah yang sering juga disebut dengan istilah perempuan atau betina (yang ini khusus untuk binatang) selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik, selalu dianggap sebagai sumber inspirasi seniman baik bagi seorang pelukis, penari sampai seorang sastrawan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=75&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 16.05pt 5pt 0.5in;"><strong><span style="color:blue;font-family:Georgia;">KOLEKSI</span></strong><strong><span style="color:blue;font-family:Georgia;"> MUSEUM</span></strong><strong><span style="color:blue;font-family:Georgia;"> MPU TANTULAR</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:blue;font-family:Georgia;"></span></strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Wanita adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT, diantara berjuta-juta bukti yang lainnya. Bagaimana tidak, makhluk indah yang sering juga disebut dengan istilah perempuan atau betina (yang ini khusus untuk binatang) selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik, selalu dianggap sebagai sumber inspirasi seniman baik bagi seorang pelukis, penari sampai seorang sastrawan dan yang lebih unik lagi wanita selalu menyuburkan rasa iri yang memang sudah menjadi sifat manusia yang sangat manusiawi.<span id="more-75"></span><br />
</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><br />
<span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Pesona wanita sejak dulu hingga sekarang sebetulnya tidak pernah berkurang atau bertambah, hanya tentu saja pada jaman sekarang peranan wanita yang lebih bervariasi dalam pola kehidupan masyarakat, membuat wanita semakin menonjol untuk dibicarakan dan dibahas (terutama oleh kaum lelaki). Membicarakan wanita tidak bisa terlepas dari bentuk tubuh, seksualitas, serta intelektualitasnya. Nampaknya akan terlihat aneh apabila menggambarkan seorang wanita tanpa tambahan komentar khusus mengenai bentuk tubuh ataupun paras wajahnya. Walaupun begitu dari abad ke abad, dari jaman kecantikan khas Nefertiti (permaisuri raja Mesir &#8220;Fir&#8217;aun&#8221;) hingga jaman yang sering dianggap sebagai abad &#8220;Internet&#8221; ini, wanita selalu dianggap sebagai makhluk yang menyimpan berjuta misteri, terkadang terlihat menarik untuk diraih, namun sulit untuk ditaklukkan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Bahkan yang lebih menunjukkan kekuasaan kaum wanita adalah dunia mode, wajar-wajar saja seorang wanita yang bersikap tomboy, malahan untuk orang-orang tertentu sifat ini dianggap menggemaskan dan menarik untuk disimak. Sebaliknya coba saja bila seorang laki-laki yang bersikap kewanita- wanitaan bukan sikap simpatik yang akan dia dapatkan melainkan cemoohan dan pandangan negatiflah yang menghampirinya. Mode-mode pakaian dari dulu hingga sekarang selalu dikuasai oleh pemenuhan selera berpakaian kaum wanita, bahkan kemudian timbul istilah unisex untuk beberapa model baju tertentu yang inspirasi dasarnya dari busana laki-laki yang kemudian divariasi sehingga menjadi busana wanita. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Dalam tulisan ini yang akan diuraikan adalah tipe-tipe wanita yang dianggap mempunyai kharisma dan ciri khas tertentu, sehingga sering dianggap sebagai simbol kecantikan yang berasal dari sekitar abad X hingga abad XIV Masehi. Namun tokh tetap relevan hingga saat ini. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Museum Mpu Tantular sesungguhnya perlu berbangga hati karena mempunyai 4 (empat) model atau tipe kecantikan wanita yang masing-masing mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Yang pertama</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> adalah kecantikan yang klasik, anggun, intelektual. Wanita tipe ini biasanya tidak mempunyai warna kecantikan yang amat menonjol, namun biasanya dari pancaran matanya serta gerak dan lekuk tubuhnya yang luwes dan penuh kelembutan akan memberikan ketenangan bagi yang berdekatan dengannya. Sehingga seolah-olah mereka digambarkan rapuh dan ringkih, padahal sebetulnya tidak begitu. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Contoh tipe ini adalah Prajnaparamita. Patung koleksi Museum Mpu Tantular sebenarnya merupakan replika, sedangkan aslinya menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta. Prajnaparamita adalah wujud antropomorpik dari pustaka (kitab keagamaan Buddha). Selain itu Prajnaparamita juga dianggap sebagai pancaran dari Dhyani Buddha Aksobhya bahkan kadang-kadang dianggap sebagai pancaran dari semua Dhyani Buddha. Pada masa kemudian Prajnaparamita dianggap sebagai sakti dari Vajradhara (Adibuddha). Namun maksud dari pembuatan patung ini adalah untuk menggambarkan Ken Dedes isteri Ken Arok raja Singosari yang bergelar Rajasa Amurwabhumi dan memerintah dari tahun 1227 M hingga tahun 1227 M. Dalam kitab-kitab sastra Jawa kuno, memang disebutkan kecantikan dari Ken Dedes tersebut. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Pada awalnya Ken Dedes adalah seorang isteri adipati Tumapel bernama Tunggul Ametung, karena daya pikatnya yang begitu besar membuat Ken Arok mabuk kepayang dan bertekad bulat untuk menjadikannya permaisuri. Akhirnya keinginan Ken Arok tercapai, setelah berhasil membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok pun berhasil menjadikan Ken Dedes wanita yang paling berbahagia di dunia, menjadi permaisuri seorang raja yang gagah perkasa dan tampan, kaya raya (ukuran pada masa itu) mempunyai istana yang megah dan mestinya dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih, serta memiliki perhiasan yang aduhai banyaknya, sehingga sekujur badannya dipenuhi dengan untaian mutiara, intan, berlian dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Begitulah yang terlihat pada penggambaran Ken Dedes sebagai Prajnaparamita, selain mengenakan pakaian yang terbuat dari kain yang halus, juga mengenakan cincin kaki gelang kaki (nupura), ikat pinggul, ikat pinggang (kali bandha), kalung (hara) kelat bahu (keyura), gelang (kankana), serta anting- anting yang terbuat dari untaian mutiara (kundala). Dalam agama budha, Prajnaparamita selain dikenal sebagai sakti Buddha tertinggi yaitu Adibuddha, juga dianggap sebagai simbol ilmu pengetahuan, karena itu dalam ikonografinya dia selalu digambarkan membawa utpala yang diatasnya terdapat pustaka, karena sebagai dewi ilmu pengetahuan, dia juga dianggap mampu mengusir kegelapan (dari ilmu pengetahuan, kebodohan) menjadi keterangbenderangan, juga dipuja sebagai dewi pembawa kedamaian, ketenangan. Karena peranannya itulah maka Prajnaparamita banyak dipuja dan menjadi sangat populer bagi pemeluk agama Buddha. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tipe kecantikan yang kedua</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> adalah kecantikan yang bersifat melindungi, memberikan ketenangan, rasa aman dan kasih seperti seorang ibu kepada anaknya. Tipe ini digambarkan sebagai seorang wanita yang lembut, dan biasanya juga tidak cantik sekali, namun wajahnya nampak sabar (santha) dengan pandangan mata teduh dan bentuk tubuh yang agak tambun, mempunyai buah dada yang besar, pinggul dan pinggang lebar namun menunjukkan adanya kekuatan. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Di Museum Mpu Tantular tipe ini diwakili dengan patung Parwati. Parwati adalah sakti dewa Siwa. Dikenal sebagai simbol wanita yang benar-benar mempunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, ibu dan istri. Selain itu Parwati juga dianggap sebagai dewi lambang kesuburan, bersama-sama dengan Siwa, mereka berdua sering digambarkan sebagai yoni (simbol wanita) dan lingga (simbol laki- laki) yang nantinya akan melahirkan kekuatan, dan kelangsungan hidup manusia. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Kecantikan tipe yang ketiga</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> adalah tipe yang sekarang biasa disebut agresif (dalam pengertian yang positif) mungkin sebagai gambaran watak dan sikap remaja-remaja kita saat ini, mereka tidak hanya mau menerima namun juga mampu untuk mengambil sikap dan tindakan yang tegas. Tipe ini memang sangat menarik untuk disimak, mereka selain digambarkan mempunyai bentuk badan dengan lekuk- lekuk yang sempurna (bak gitar Spanyol) luwes namun berotot juga seringkali digambarkan bersikap dinamis tanpa menunjukkan sikap kejam dan semena-mena, berwajah cantik, menunjukkan kecerdasan dari bentuk mata serta pandangannya dan menunjukkan kematangan jiwanya. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tipe seperti ini diwakili dengan patung Durga Mahisasuramardhini, walaupun dalam penggambarannya Durga disebutkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil mengalahkan asura yang berubah bentuk seperti kerbau yang sangat besar. Namun yang menarik dalam adegan ini tidak digambarkan Durga sebagai wanita yang kejam dan berbadan kekar kelaki-lakian, sebaliknya Durga tetap digambarkan feminim, cantik dan menarik. Hal ini jelas tertuang dalam mitologi, bahwa untuk mengalahkan asura berupa kerbau jantan yang sangat besar tersebut memang dewa Siwa telah menciptakan seorang dewi yang sangat cantik dan penuh pesona, setelah wujud dewi tadi terbentuk barulah para dewa yang lain melengkapi dengan memberikan berbagai jenis senjata yang nantinya dapat digunakan oleh Durga dalam melawan Asura. Bahkan ada beberapa kitab yang menunjukkan bahwa badan Durga juga dibuat bersama-sama oleh para dewa dengan cara menyatukan kekuatan dalam masing-masing dewa, sehingga menghasilkan makhluk yang sangat cantik namun mempunyai kesaktian yang sangat tinggi pula. Mungkin maksud yang lebih dalam dari cerita ini bisa lebih kita sederhanakan, bahwa bagaimanapunjuga kekejaman (seseorang) akan bisa terkalahkan dengan sikap yang sebaliknya yaitu kelemahlembutan namun tetap memendam kekuatan. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Mungkin gambaran cerita Durga ini bisa kita terapkan pada kehidupan kaum wanita saat ini, yaitu untuk melawan kediktatoran kaum laki-laki kita tidak harus melawan dengan kekerasan namun justru dengan menonjolkan kefemininan kita, kita akan bisa mengalahkannya. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tipe yang terakhir atau keempat</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> boleh dikatakan adalah tipe kecantikan yang serba kaku, keras kepala, menunjukkan ke-aku-an yang menonjol, bahkan dalam gerakannya terlihat keinginan untuk diperhatikan. Tipe ini juga nampak garang dan terkesan tidak bisa menyembunyikan apa yang tengah dialami, dan justru inilah daya tariknya. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tipe ini diwakili oleh patung Durga Mahesasuramardhini yang berasal dari candi Rimbi. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sebagaimana disebutkan di atas dalam ikonografinya Durga paling sering digambarkan dalam adegan mengalahkan Asura, namun di Jawa (atau Indonesia umumnya) sangat jarang ditemukan wajah Durga yang menunjukkan dirinya sebagai seorang raksasi, sebaliknya Durga selalu digambarkan dengan penuh kelembutan seorang wanita. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Yang nampak lain adalah patung Durga dari candi Rimbi ini. Patung Durga dari candi Rimbi ini digambarkan berdiri dengan kedua kaki terbentang (pada umumnya Durga digambarkan dalam sikap tribhangga), menyeringai sehingga memperlihatkan gigi taringnya yang tajam, mata melotot dan rambut terurai tak beraturan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Hal ini tentu saja disebabkan karena pengaruh dari aliran keagamaan yang melatar belakangi pembuatan patung tersebut, yaitu aliran Tantrayana. Tantrayana adalah salah satu aliran dalam agama Hindu yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan raja Kertanegara, yaitu akhir dari kerajaan Singosari, walaupun beberapa ahli berpendapat bahwa agama Hindu yang masuk di Indonesia sudah menunjukkan adanya pengaruh Tantris tersebut. Salah satu dari ciri aliran ini adalah menonjolnya peranan dewi atau sakti (pendamping dewa yang mempunyai ciri dan kekhasan serta kekuatan sama dengan dewa yang didampingi) dewa dalam alam pikir mereka, karena para penganut Tantris berpendapat bahwa persatuan antara laki-laki dan perempuan inilah yang akan menghasilkan kekuatan yang akan membawa ke nirvana. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Selain itu ciri aliran ini juga terlihat dalam ikonografi beberapa dewa dan dewi, dalam penggambaran dewa dan dewinya seringkali dalam bentuk krodha, kemarahan, bahkan ada beberapa yang dilengkapi dengan atribut tengkorak, ada pula yang dalam ikonografinya terlihat dalam bentuk yang sangat berlebihan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tidak bisa dipungkiri, bahwa para seniman masa kebudayaan Hindu-Buddha biasa disebut seniman keagamaan, karena mereka membuat patung dewa berdasarkan pada aturan-aturan tertentu yang sudah tertulis dalam kitab-kitab keagamaan mereka. Kitab-kitab tersebut pada awalnya hanya berupa sebentuk puji-pujian kepada dewa, kemudian dewa- dewa yang tertulis didalam kitab tersebut diwujudkan dalam bentuk patung yang disebut antropomorphik (mewujudkan dalam bentuk manusia). </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Pada beberapa peninggalan kuno di Jawa Tengah aturan-aturan yang ada didalam kitab keagamaan masih relatif ditaati, lain halnya dengan periode Jawa Timur. Banyak sekali para seniman yang telah menambah ataupun sedikit mengganti atribut dewa dengan tujuan untuk lebih mendukung fungsi dan peranan dewa tersebut, hal ini tentu saja bisa dihubungkan dengan menjamurnya kebiasaan para raja di Jawa Timur yang menganggap dirinya adalah titisan dewa tertentu sebagai sarana untuk melegitimasi diri. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Seniman bagaimanapun juga tetap seniman, yang mengagungkan karya seni. Dalam berkarya mereka tidak akan bisa berhasil maksimal apabila diharuskan memenuhi berbagai macam syarat, bagaimanapun kreatifitas mereka sebagai jati diri tetap akan muncul dalam hasil karya mereka. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Begitu pula dalam melukiskan atau membuat patung dewi, secara tidak sadar mereka akan membayangkan watak dan peranan dewi tersebut. Dengan merangkai bayangan itu, maka mereka dapat dengan lancar membentuk wujud dewi tersebut dalam pahatan mereka, tanpa melenceng jauh dari aturan yang berlaku. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sebagai contoh; Parwati dalam masyarakat Hindu dianggap sebagai prototipe wanita yang penuh sifat keibuan, lembut, dan bahkan kemudian dianggap sebagai dewi simbol kesuburan. Biasanya orang akan lebih mudah membayangkan sesuatu dengan mengambil perbandingan dari apa yang sering terlihat sehari-hari. Tidak mungkin bukan seorang simbol kesuburan digambarkan berpinggang ramping, dan berotot tentu saja untuk memperjelas peranan Parwati, dia digambarkan dengan pinggang yang lebar dan sedikit gemuk, sederhana namun tetap menonjolkan daya tariknya sebagai seorang wanita. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tentu saja lebih mudah bagi seorang seniman menggambarkan dewi kesuburan dengan membayangkan wajah ibunya, pada umumnya wanita yang sudah pernah melahirkan akan terlihat dari perubahan bentuk tubuhnya namun tokh perubahan itu tidak selalu mengurangi kecantikannya. </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Demikian juga halnya pada penggambaran Prajnaparamita, Durga Mahisasuramardhini pada umumnya dan khusus di candi Rimbi. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Abad demi abad telah berlalu, namun tokoh keempat tipe kecantikan wanita tersebut masih saja tetap ada dan masing-masing tipe mempunyai daya tarik yang berlainan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Sekarang tinggal bagaimana dengan anda? Apakah ada salah satu dari keempat tipe itu yang merupakan idola atau mungkin anda merupakan wujud nyata dari salah satu tipe tersebut? </span></span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Nah silahkan menilai diri anda sendiri. <strong>(+Endang Prasanti+)</strong></span><span></span></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="center" style="margin:0;" class="MsoNormal"><font size="2"><em>Sumber : buku Nawasari Warta<span>  </span>- edisi III pebruari 1996</em></font></p>
<p align="left" style="text-align:center;margin:5pt 16.05pt 5pt 0.5in;">&nbsp;</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhitos.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhitos.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhitos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhitos.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhitos.wordpress.com&amp;blog=264989&amp;post=75&amp;subd=dhitos&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhitos.wordpress.com/2008/01/23/wanita-wanita-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53e9fa2b5ec99a36fadc01765de30085?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhitos</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
