Di Balik Otak Si Pemalu

5 07 2006

Mungkin akan terasa begitu senyap bila kita berada di dekat seseorang yang bersifat pemalu. Yang jelas, apa yang ada di dalam kepala mereka jauh lebih semarak ketimbang penampilan luarnya. Ketika menemukan suasana menakutkan, bagian otak yang bertanggung jawab pada emosi negatif bekerja semakin cepat.

Demikian pula bila mereka menemui suasana yang jarang terjadi, seperti ketika berjumpa dengan orang baru. Tak hanya itu, sebuah riset terbaru membuktikan bahwa si pemalu lebih sensitif terhadap semua bentuk stimulasi.
Penemuan itu dikemukakan pada Journal of Neuroscience, setelah penelitian sampel scan otak 13 remaja sangat pemalu dan 19 remaja yang lebih supel. Pemimpin riset, Amanda Guyer, mengatakan penelitian dilakukan dengan menempatkan alat magnetic resonance imaging pada saat mereka bermain game.

Mereka diinstruksikan memencet sebuah tombol secepat mungkin, tepat setelah aba-aba sinyal diperlihatkan. Bila tombol dipencet pada waktunya, mereka memenangi uang, atau paling tidak menghindarkan mereka dari kehilangan uang.

Dua kelompok yang dites, remaja pemalu dan remaja yang supel, tak menunjukkan perbedaan aktivitas pada amygdalas mereka. Amygdalas adalah wilayah otak yang mengatur rasa khawatir. Tapi remaja pemalu memiliki aktivitas striatum dua atau tiga kali lebih tinggi daripada remaja supel. Striatum adalah bagian otak yang berkaitan dengan penghargaan.

“Hingga sekarang, banyak orang mengira sifat pemalu berkaitan dengan sikap menghindar dari lingkungan sosial,” ujar peneliti sekaligus ahli psikiatri anak Monique Ernst. “Ternyata anak pemalu memiliki aktivitas lebih tinggi pada bagian otak mereka yang berkaitan dengan penghargaan.”

Menurut Guyer, yang juga ahli psikologi pada Institut Kesehatan Nasional di Bethesda Maryland, Amerika Serikat, seorang anak yang sangat pemalu mengalami sensitivitas lebih pada berbagai tipe stimulasi, misalnya rasa takut ataupun penghargaan.

Mauricio Delgado, psikolog pada universitas Rutger di Newark, New Jersey, menyatakan peningkatan aktivitas pada striatum mungkin bisa menolong anak pemalu mengatasi situasi cemas ketika menghadapi suasana penuh tekanan, walaupun hal itu tak cukup untuk mengatasi rasa malu mereka sendiri.

Penemuan ini, menurut Brian Knutson, psikolog Universitas Stanford di Palo Alto,
California, cukup membantu para periset memahami kenapa anak pemalu menghadapi banyak problem kejiwaan di kehidupan mereka selanjutnya. Sebab, mereka lebih sensitif saat mengalami suasana kemenangan ataupun kekalahan. Hal ini menempatkan mereka pada pengalaman suasana emosi lebih kuat dibandingkan dengan orang lain.

Di satu sisi, sifat pemalu menyebabkan mereka memiliki risiko kelainan emosional, seperti kecemasan dan depresi. Di sisi lain, seorang anak pemalu justru mengalami emosi positif lebih kuat saat mengalami keberhasilan. Hal itu, Knutson menambahkan, membantu mereka semakin sukses.

Postingan diatas tak comot dari sini…


Actions

Information




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: